Capai Hidup Sederhana Dari Yoga

Yoga tidak sekadar soal praktik mengolah tubuh. Lebih dari itu, yoga mengontrol mental atas aktivitas tubuh dan pikiran. Itu artinya, seorang pelaku yoga tidak hanya harus belajar pelbagai pose yoga, melainkan juga mengetahui esensi yoga. Praktisi yoga Setyo Jojo mencoba mengupasnya pada kelas siang di Yoga Gembira Festival 2016, Menteng, Jakarta, pada Sabtu, 16 April 2016.

Alkisah, sekitar 2.200 tahun silam, Maharsi Patanjali mengajarkan sistem yoga asana yang termuat dalam kitab Yoga Sutra Patanjali. Isinya, antara lain, ajaran yoga termasuk tujuan dan bentuk ajaran serta tata cara pelaksanaan yoga termasuk cara mencapai Samadhi.

Setyo yang sudah meneliti yoga secara mandiri sejak 2006 itu menuturkan terdapat tahap Yama dalam tingkat yoga, yang intinya merupakan tahap pendisiplinan diri secara fisik. Yama mengandung lima prinsip yang harus dilakukan seorang yogi dalam membangun hubungan ideal antara individu dan dunia.

“Yama merupakan sumpah agung atau universal,” ucap Setyo.

Lima prinsip itu yakni ahimsa, satya, asteya, brahmacarya, dan aparigraha. Singkatnya, ahimsa ialah tidak melakukan kekerasan terhadap makhluk lain, termasuk hewan dan tumbuhan, sedangkan satya berarti jujur dan selaras antara tindakan, ucapan, dan pikiran. Setyo menuturkan ahimsa ialah perilaku tanpa kebencian dan niat jahat.

Asteya ialah tidak serakah, brahmacarya bersikap sederhana, dan aparigraha melepaskan keterikatan pada benda material keduniawian.

“Yoga tidak berkaitan dengan agama apapun. Dia tidak dibatasi waktu, ruang, golongan, atau suku, status, dan kasta,” tutur Setyo.

Katanya, mengutip Patanjali, yoga bertujuan mencapai hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan, mempelajari ajaran kebaikan secara mandiri, dan penyerahan diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepada-Nya.

Tujuan yoga itu mengakhiri pemaparan Setyo siang itu. Lantas, dia melanjutkan praktik yoga klasik, salah satunya padma mayurasana dengan langkah awal membentuk lotus pose. Setyo melakukan asana itu dengan sangat baik.

Beberapa partisipan kelas bisa mengikutinya, tapi sebagian lain tidak bisa mengangkat badannya. Ketidakbisaan ini jadi PR (pekerjaan rumah) partisipan untuk berlatih terus. Kelas Setyo diakhiri dengan sesi tanya jawab. Keluar kelas Setyo, pikiran tercerahkan, fisik jadi lebih segar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *