Catatan Pendiri (Yudhi Widdyantoro)

Seperti pohon yang kita jumpai di taman, unsur-unsurnya terintegrasi dan terkoneksi. Dari akar, batang, cabang, daun, sampai bunga an buah. Begitu juga dengan yoga dengan segala aspek yang melingkupinya yang bekerja di dalam diri kita. Belajar dan mempaktekkan yoga bisa juga dari inspirasi pohon di taman itu. Selain mendekatkan diri dengan alam sebagai sumber inspirasi, beraktivitas di ruang terbuka, seperti yang telah dilakukan teman-teman Koomunitas Yoga Gembira selama sembilan tahun bisa juga sebagai sarana interaksi antarwarga, mengakrabkan hubungan sesama warga Peminat kesehatan dan sebagai katarsis dari kepenatan dan beban psikologis hidup di kota metropolitan.

Sebagai rasa syukur atas terpenuhinya hak sebagai warga kota untuk menggunakan taman, idealnya segala aktivitas yang dilakukan di taman hendaknya dengan penuh suka cita dan kegembiraan, tidak ada perasaan terintimidasi dan rasa tersekat-sekat oleh berbagai lebel primordial.

Berlatih yoga di taman, selain bisa mengembangkan kesadaran ekologis dan kesadaran egaliter, bisa juga dimaknai sebagai ziarah menuju realisasi diri sebagai mahluk di dalam semesta yang setiap saat yang hendaknya mendapatkan kebaruan (Finding New), walaupun pada hal-hal sepele dan remeh-temeh. Biasanya, perasaan “penuh” dari telah berkembangnya kegembiraan itu akan berlanjut dengan emanasi, rasa ingin berbagi, beramal dengan tulus pada mereka yang kurang diuntungkan.

Untuk mendapatkan rasa itu, pasrahkan diri kita (dying) pada bekerjanya mekanisme alam semesta bekerja, seperti dikatakan Madame de Salzmann, mentor di School Of Wisdom, Adyar, India :”Dying to the old self is necessary for a new birth.” (*/Yudhi Widdyantoro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *