Chandra Kuntjoro-Jakti ; Tidak Kapok Meski Awalnya Tidak Cocok

Berapa banyak orang yang meninggalkan yoga hanya karena pengalaman yang kurang mengenakkan dengan seorang pengajar yoga? Tetapi tidak demikian dengan Chandra Kuntjoro-Jakti. Meskipun pada awalnya ia mencoba masuk dan mengikuti kelas yoga tetapi merasa kurang cocok dengan pengajar atau gaya yoga pengajar tersebut, ia mengaku tidak kapok untuk mencoba yoga kembali. Pada YogaGembira.com (YG), Chandra (CK) menceritakan pengalamannya di dunia yoga yang berawal sejak 19 tahun yang lalu. Berikut petikan wawancara dengan instruktur yang secara rutin mengajar di Rimba Baca dan Studio Nujuh Bulan yang akan membagikan ilmunya di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, hari Minggu pagi nanti (28 Juli 2019).

YG: “Kapan dan bagaimana Chandra bisa mengenal yoga hingga seperti sekarang?”

CK: “Pada tahun 2005 saya tiba-tiba mengalami susah tidur karena tingginya beban stress di kantor. Kebetulan saya pernah membaca suatu artikel yang mengatakan bahwa yoga cocok untuk mengatasi stress, jadi saya pun mencoba kelas yoga. Awalnya tidak cocok, mungkin karena gurunya atau style-nya, tapi saya tidak kapok. Akhirnya saya menemukan kelasnya Mas Arief (Santosa – pen) dan sejak saat itu saya jadi rajin yoga dan mulai berpetualang di dunia yoga dengan mencoba berbagai kelas dan guru.”

YG: “Apakah tujuan paling utama Candra dalam yoga?”

CK: “Bagi saya adalah pengenalan diri dan juga penerimaan terhadap diri sendiri. Jika acceptance sudah terjadi, maka untuk mencapai keseimbangan diri menjadi lebih mudah.”

YG: “Siapa guru yoga yang paling diingat dan inspiratif sampai sekarang?”

CK: “Mas Arif tentunya, dan Mbak Thelma Wuisan yang sudah saya ikuti programnya di Karmarati sejak 2014. Selain itu tentunya guru-guru yang saya pernah ikuti teacher training mereka yaitu Kosta Miachin, Cat Kabira dan Les Leventhal. Saya juga suka beberapa guru-guru hits dunia seperti Jason Crandell dan Kathryn Budig karena kelas-kelas online mereka sangat menyenangkan.”

YG: “Manfaat apa yang pertama Anda rasakan setelah pertama kali dulu mulai beryoga?”

CK: “Yang pasti saya jadi kembali bisa tidur nyenyak di malam hari. Selain itu, badan tentunya terasa lebih nyaman, saya jadi tidak pernah lagi salah urat dan tidak lagi perlu sering-sering dipijit. Secara emosional tentu saja terasa sekali ada rasa grateful dan tenang yang sulit untuk diterangkan dengan kata-kata.”

YG: ”Menurut Anda, guru yoga yang ideal itu seperti apa?”

CK: “Guru yang rendah hati (down to earth), tetap mau belajar dan tidak merasa bahwa dirinya superior. Selain itu saya juga senang dengan guru yoga yang walk the talk, jadi apa yang dia ajarkan adalah hal-hal yang dia jalankan, bukan hanya tahu teori saja.”

YG: “Jenis yoga yang bagaimana yang paling Anda sukai? Dan kenapa?”

CK: “Hatha Flow atau Vinyasa, pokoknya yang gerakannya simpel dan tidak ribet, dan asananya sambung menyambung sehingga napaspun terasa mengalir dan flowing dengan nyaman.”

YG: “Bagaimana dan sesering apa Anda yoga?”

CK: “ Saya hanya latihan seminggu sekali untuk durasi yang panjang sekalian untuk menyusun materi saya mengajar. Tetapi setiap hari saya melakukan beberapa yoga asana favorit dan simple untuk stretching agar badan tetap segar. Selain itu, jika peserta yang datang ke kelas saya adalah murid-murid regular, maka saya biasanya ikutan practice juga, jadi saya memberi instruksi sambil ikut melakukan sekuensnya. Memang lebih lelah, tapi lebih seru juga.”

YG: “Asana apa yang paling Anda sukai dan tidak sukai di kelas yoga dan kenapa?”

CK: “Saya suka asana yang simpel tapi efektif seperti Downward Dog dan Uttanasana. Apalagi banyak variasi yang bisa diberikan pada kedua asana ini. Yang tidak saya sukai adalah headstand karena sampai sekarang saya selalu merasa tidak balance dan takut jatuh ke arah yang salah.”

YG: “Bagaimana yoga Anda integrasikan dalam kehidupan sehari-hari?”

CK: “Saya berusaha memasukkan Yama dan Niyama ke dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak melakukan kekerasan, berkata jujur, tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan (tidak boros, tidak rakus), dan lain sebagainya.”

YG: “Apa hobi di waktu luang selain yoga dan olahraga?”

CK: ”Saya hobi membaca buku dan menonton film khususnya yang berjenis crime fiction dan detektif.”

YG: “Bisa diceritakan sekilas, bagaimanakah pengalaman pertama mengajar Anda?”

CK: “Selesai saya mengambil YTT di Vikasa Yoga di bawah bimbingan Kosta Miachin tahun 2012, saya pun mengajar kelas gratis untuk teman-teman dengan meminjam lantai dua perpustakaan anak-anak Rimba Baca milik Fitri teman saya. Di awal 2013 Fitri mendorong saya untuk membuka kelas berbayar, tapi saya masih juga tidak percaya diri. Akhirnya bulan Maret 2013 saya mengambil saya YTT singkat selama 45 jam di bawah bimbingan Les Leventhal sambil membereskan berbagai keperluan untuk membuka kelas tersebut, seperti mencetak banner, mengirimkan email promo ke teman-teman, dan membeli beberapa yoga mat untuk ditaruh di Rimba Baca. Pada 1 April 2013 kelas Yoga with Chandra KJ! resmi dibuka di Rimba Baca.”

YG: “Apa yang menurut Anda paling menarik dari aspek filosofi/ non-asana dalam yoga?”

CK: “Yang menarik adalah karena aspek filosofi dari yoga sangatlah indah untuk dipelajari dan sayang jika tidak diterapkan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan menjalankan aspek filosofi ini hidup rasanya lebih ringan dan saya tidak lagi terlibat di dalam drama-drama tidak penting yang membuat saya jadi buang waktu dan buang energi.”

YG: “Bagaimana Anda menggambarkan gaya mengajar Anda?”

CK: “Saya senang mengajarkan yoga asana yang simple dan berbagai variasinya sehingga asana-asana ini bisa dilakukan dimana saja, tidak hanya di dalam kelas dan di atas yoga mat.”

YG: “Apakah aspek yoga yang paling menarik bagi Anda?”

CK: “Konsep “union” yang bisa diaplikasinya ke berbagai aspek selain union di dalam diri kita yaitu mind, body and soul. Union ini juga bisa dilihat sebagai kesatuan kita dengan keluarga, dengan alam semesta, dan lain-lain.” (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *