Clara, Yoga dan Cedera

Seribu jalan menuju Roma. Begitu juga banyaknya cara bagi tiap orang untuk mengenal yoga.

Bagi Clara, yoga menjadi pilihan untuk memulihkan diri dari cedera. Menurutnya, perjalanan yoganya berawal di tahun 2014. “Saya terdorong untuk memulihkan diri dari cedera pasca kecelakaan,” tuturnya. Ia yang semula bekerja sebagai instruktur yang fokus pada latihan kardiovaskuler dan masih terikat kontrak kerja, kemudian ikut serta dalam kelas-kelas yoga sebagai murid.

Dari ketekunan Clara sebagai murid itulah, ia berlanjut ke beberapa workshop. “Kemudian saya memutuskan mengambil Yoga Teacher Training dengan berbekal optimisme tinggi,” imbuhnya.

Kesan yang dilihat Clara pertama saya menyaksikan orang berlatih yoga memang positif.  Ia melihat yoga itu membuat “senang, tenang, terlebih dengan berbagai pose yang bisa dilakukan di dalamnya”.

Penyuka asana-asana arm balance ini menyatakan alasan utamanya berlatih yoga adalah kesehatan. Di samping itu, ia juga sebisa mungkin berbagi (baca: mengajar) agar bisa ikut menyehatkan orang lain juga dengan metode yoga.

Saat ditanya sosok guru yang membuatnya terinspirasi hingga bisa seperti sekarang, Clara menyebut nama-nama yang sudah banyak dikenal penggemar yoga di Indonesia, terutama ibukota. “Guru yoga pertama saya adalah Renti Sibarani. Kemudian ada beberapa yang inspiratif juga di antaranya “Master” Slamet Riyanto, I Wayan Bagus dan Guru Made Sumantra – pen),” ia menjelaskan.

Guru-guru yang ia sebutkan tadi memenuhi kriteria guru yoga yang ideal bagi Clara. Sosok guru yoga mesti pribadi yang rendah hati, cerdas serta penuh energi positif untuk disebarkan pada orang lain di sekitar mereka. “Yang pasti senantiasa membumi, tidak merendahkan orang lain namun juga tidak meninggikan diri,” terang wanita berambut pendek ini.

Setelah beberapa lama beryoga, manfaat yang segera ia rasakan ialah badan terasa lebih bugar, rileks, lebih nyaman dalam mengontrol pikiran, emosi, jiwa dan raga.

Karena Clara memiliki riwayat cedera, yoga juga membuatnya menjadi lebih peka jika tubuhnya memerlukan rehat. “Saya lebih mudah memulihkan tubuh saat lelah dan capek dengan yoga,” tegas yogini yang menyukai hampir semua asana kecuali postur-postur backbend karena kondisi tubuhnya yang kurang memungkinkan. Ia lebih menggemari postur-postur arm balance sebab dapat melatih tubuh bagian atas (upper body) dan meningkatkan keseimbangan tubuh dan di saat yang sama, menguatkan otot-otot di batang tubuh (core muscles).

Banyak aspek yang bisa digali dalam yoga. Clara mengakui dirinya tertarik pada yoga asana. Alasannya? “Karena (yoga asana) memberikan tantangan untuk mengeksplorasi kemampuan dan mengembangkan diri lebih jauh,” tukas pengajar yang merasa lebih tenang, positif dan bijak setelah beryoga.

Untuk menunjukkan konsistensinya dalam belajar, Clara mengaku dirinya beryoga hampir setiap hari. Terlebih kelas-kelasnya juga ada beberapa kali dalam seminggu. (*Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *