Detik Utami: “Yoga Ternyata Capek Bok!”

(Sumber: Dokumentasi pribadi)

Siapa tidak kenal Kino MacGregor? Guru Ashtanga Yoga itu telah termasyhur hingga ke berbagai belahan dunia berkat kepopulerannya di jagat maya. Postur-posturnya yang selalu memukau di Instagram membuat kita banyak yang ingin belajar darinya secara langsung sehingga tidak heran kita di Indonesia tersihir atas kehadirannya beberapa waktu lalu saat ia mampir ke Jakarta.

Salah satu di antara sekian banyak yogi dan yogini Indonesia yang mengidolakan MacGregor ialah Detik Utami. Namun, alih-alih berpikir bahwa MacGregor ialah guru yoga, saat pertama menyaksikan video MacGregor Detik justru menduga perempuan blasteran Asia-Amerika itu pesenam atau pelatih fitness.

“Eh ternyata saat ngomong, beuhh sarat filosofi. She made yoga looked more approachable for ‘nobody’ like me (Ia membuat yoga lebih dapat dipahami oleh ‘mereka yang bukan siapa-siapa’ seperti saya),” ucap Detik jujur.

Detik mengenal yoga dari aspek keindahannya. Gerakan-gerakan yoga yang menawan termasuk yang dimuat MacGregor dalam media sosialnya memang membuat kita terkagum-kagum dengan kemampuan tubuh manusia. Yoga mengajak kita menggali potensi diri, pertama fisik dan berikutnya mental serta spiritual.

Ia juga mengakui bahwa orang-orang yang berlatih yoga secara rutin memiliki pembawaan yang sabar dan kalem. Inilah yang membuatnya ingin mengenal yoga lebih jauh.

Setahun lalu (2016), Detik merasa terpanggil untuk mulai belajar yoga secara serius. “Saya pikir yoga sangat praktis, saya bisa latihan di mana saja, pakai streaming video juga bisa. Latihan cukup di rumah,” terangnya.

Pertama beryoga, Detik langsung dapat merasakan faedahnya. Tidurnya di malam hari menjadi lebih nyenyak dan berkualitas.

Dari kelas yoga pertamanya, ia juga akhirnya mengetahui bahwa yoga bukan hanya duduk-duduk. Ia menandaskan,”Yoga ternyata capek, bok!”

Ia mengaku tujuan utamanya dalam belajar yoga ialah menemukan keseimbangan dalam hidup. “Life balance, karena saya sudah pusing dengan pekerjaan. Eh, malah semakin kecantol,” seloroh perempuan berambut panjang ini spontan.

Detik memiliki kriteria guru yoga yang ideal. Menurutnya, seorang guru yoga yang baik tak perlu bertampang ‘wah’. “Tampang biasa dengan hati yang luar biasa. Bisa membawakan yoga ke orang-orang yang tidak tahu atau bahkan tidak suka yoga.” Memang tidak mudah, tandasnya.

Sebagian orang memiliki preferensi jenis yoga. Ada yang suka vinyasa karena suka dengan olahraga berjenis kardio, ada yang menyukai yoga gaya Iyengar sebab memiliki problem postur, ada yang menyukai Power Yoga karena ingin lebih kuat, dan sebagainya. Detik lain. Ia menyukai semua jenis yoga. Akan tetapi, untuk sesi latihan sendiri ia memilih dynamic yoga.

Ia sangat menikmati sebuah sesi latihan yang di dalamnya ia bisa larut. “Kalau berkeringat, terasa puas dan lega. I get lost in myself during my yoga practise (Saya larut dalam diri sendiri selama latihan yoga).”

Ditanya kekerapan ia beryoga selama seminggu, ia menjawab bahwa sudah enam bulan terakhir ini ia berlatih saban hari. Agar tidak jenuh layaknya mengonsumsi makanan atau minuman, ia menggunakan porsi dan menu yang berbeda.

Ia juga menemukan ambivalensi dalam pikirannya selama berlatih postur-postur inversi. Terbukti saat ia ditanya soal asana yang ia paling sukai dan benci, ia menjawab inversi. “Saya paling suka dan paling tidak suka inversion,” ujarnya. Alasannya, karena untuk bisa mencapai inversi, ia mesti melakukan pemanasan yang mencukupi. Namun, kesusahpayahan itu tertebus begitu ia bisa di puncak latihan dan siap mengeksplorasi inversi dalam berbagai variasinya.

Detik meyakini bahwa yoga tidak cuma bisa dipraktikkan di atas mat. Setelah mat digulung dan disimpan, seorang yogi/ni juga bisa menerapkan yoga dalam setiap kegiatan hariannya.

“Saat yoga, ada kalanya bosan atau capek karena latihan pose tertentu tapi belum bisa terus. Di situ saya belajar sabar dan tekun, berupaya nikmati prosesnya,” terangnya. Namun, semuanya akan terpecahkan dengan sendirinya jika saatnya yang tepat telah tiba, demikian ia menyudahi wawancara ini. (*Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *