Devi Handriyani: Beryoga Demi Kesejahteraan Pikiran, Fisik dan Jiwa

Perkenalan Devi Handriyani dengan Yoga dimulai saat ia mulai ikut kelas tiap hari Sabtu di tahun 2006. “Setelah itu saya berhenti berlatih setelah mengikuti kelas sekitar 6 bulan karena gurunya menutup kelas tersebut,” kenang pengajar yang kini bermukim di Bumi Serpong Damai ini pada YogaGembira.com melalui WhatsApp.

Tidur lelap, tubuh segar saat bangun dan nyaman saat beraktivitas menjadi beberapa efek positif yang ia berhasil rasakan setelah mulai beryoga.

Awal 2010, saat masih berkecimpung dunia korporasi, Devi merasa dirinya membutuhkan olah tubuh selain aerobik yang ia telah lakoni sejak remaja. Yoga kemudian menjadi pilihannya karena memberikannya kesempatan untuk bergerak dan menyegarkan raga dan jiwa.

Di awal 2013, Devi melepaskan pekerjaannya sebagai karyawati sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk menekuni Yoga. Hingga di awal 2014, ia berkomitmen untuk mempelajari Yoga dalam sebuah pelatihan mengajar terapi dengan Yoga yang kemudian diikuti dengan sejumlah pelatihan lainnya dalam bidang Prenatal Yoga, Yin Yoga, Yoga untuk Kebugaran, dan Hatha Yoga.

Devi mulai memberanikan diri untuk mengajar sejak akhir 2014 dan kemudian membagikan pengetahuan dan pengalamannya beryoga di sejumlah studio di Jakarta Selatan dan Tangerang. Kini karena pandemi masih melanda, Devi masih terus mengajar secara virtual di Simply Harmony Yoga Space, sebuah bisnis kecil pembuatan alat bantu latihan Yoga.

Dari semua pelatihan tersebut, Devi mengingat masing-masing guru yang memberikannya pengetahuan. “Saya ingat semua guru tersebut dengan masing-masing kontribusi yang berbeda dan saling melengkapi,” ungkap perempuan yang selalu menyempatkan berlatih Yoga setiap hari ini. Dari sosok-sosok guru tersebut, ia juga belajar bagaimana menjadi guru yang baik, yang menurutnya mesti bisa membawakan materi latihan dengan baik sesuai dengan tujuan kelas.

Dalam berlatih, Devi mengaku tidak memiliki jenis Yoga yang paling favorit karena ia menyadari pentingnya latihan yang ‘well-rounded’ (penuh, lengkap). Ia juga berlatih berdasarkan tujuan, baru menentukan posenya dan berlatih berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan akan suatu pose tertentu, terang instruktur yang bergaya mengajar detail ini.

Ia berupaya untuk meleburkan Yoga ke dalam kehidupannya sehari-hari dengan menyisipkan latihan di antara aktivitas sehari-hari. “Baik asana, termasuk MFR (Myofascia Release), bernapas sadar dan mengambil jeda sejenak (meditasi), pola makan, pola tidur dan pola pikir,” jelas perempuan yang menyukai eksperimen di dapur untuk mengolah makanan yang kurang disukai anggota keluarga menjadi cukup menarik untuk dikonsumsi.

Nilai ‘Satya’ (kejujuran) menurut Devi menjadi sebuah konsep selain asana dalam Yoga yang menarik. Selain itu, ia juga menemukan kekayaan pengetahuan ilmiah dalam Yoga.

Untuk komunitas Yoga Gembira, Devi akan berbagi melalui kelasnya yang bertajuk “Well Rounded Myofascia Exercise” hari Minggu pagi nanti tanggal 8 November 2020 di akun Instagram Yogem @yoga_gembira. Di sesi latihan ini, kita akan diajak tidak hanya melakukan penguatan dan peregangan seperti kelas Yoga pada umumnya tapi juga disertai dengan pemijatan myofascia sebagai sarana pemeliharaan fungsi gerak tubuh. (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *