Dewi Arimbi Putri: “Dengarkan Badan Anda, Jangan Memaksakan Diri!”

Perkenalan pertama Dewi Arimbi Putri atau yang akrab disapa Utie dengan Yoga terjadi pada tahun 2013. “Saat itu tujuan saya ikut kelas-kelas olahraga adalah untuk program mengecilkan badan. Itupun masih ‘up and down’,” ujarnya pada YogaGembira.com.

Lalu pada 2014 Utie mulai rutin beryoga setelah mengundurkan diri dari tempat kerjanya dan bekerja di rumah. “Dan ternyata  saya mulai merasakan manfaat yang banyak dari beryoga, salah satunya adalah menyembuhkan sakit asma yang saya derita selama ini,” tutur perempuan yang kemudian meyakini bahwa asma tersebut adalah bagian dari luka batin yang tersimpan dalam tubuhnya.

Menurut Uthie, tujuan utama beryoga selain mengenal lebih dalam diri sendiri baik secara fisik ialah untuk melatih kesadaran lebih dalam ke dalam diri. “Kita berlatih untuk bergerak secara sadar dan tidak memaksakan diri berlebihan seiring kesadaran terbentuk,” terang pengajar yang beryoga dengan menyesuaikan dengan kemampuan diri dan batasannya sendiri ini.

Bagi Uthie, Rika Damayanti ialah guru yang menurutnya paling berkesan. “Beliau adalah guru yoga pertama saya sekaligus guru kehidupan juga. Beliau benar-benar mengajarkan esensi Yoga. Ingat sekali pesannya pada saya untuk terus belajar ke mana saja, di mana saja dengan siapa saja bahkan dengan guru dari sekolah yoga berbeda,” ucap pengajar yang mengaku menyukai Yoga yang seimbang antara unsur Yang (aktif) dan Yin (pasif) ini.

Dari Rika, ia meyakini Yoga mirip keajaiban. “Kita akan terkagum melihat kemampuan tubuh kita sendiri setelah berlatih rutin,” tegas Uthie yang kemudian juga menyebarkan pesan yang sama saat mengajar.

Ia berpandangan seorang sosok guru Yoga mesti dapat sebisa mungkin membuat teman-teman yang beryoga tidak gegabah atau berambisi dalam melakukan sebuah asana dan membantu mereka untuk lebih dalam melihat ke dalam diri masing-masing, bukan lagi keluar diri.

Uthie menanamkan Yama dan Niyama dalam kehidupannya sehari-hari, sebisa dan semampunya. “Saya juga mencoba membagikan ajaran ini kepada keluarga dan teman-teman dekat,” tutur Uthie yang jika tidak beryoga lebih menyukai menghabiskan waktu bermain dengan buah hatinya.

Pengalaman pertama mengajar Uthie terjadi tahun 2015. Saat itu ia belum mengikuti Yoga Teacher Training. “Saya diminta seorang teman dekat untuk mengajari dia sesuai bimbingan mbak Rika Damayanti. Awalnya cuma membantu dia tapi sulit keluar rumah, lalu iseng-iseng ikut mbak Rika mengajar dan tanpa sadar membentuk sebuah komunitas kecil di Cinangka Sawangan dan Pondok Cabe,” jelas Uthie panjang lebar.

Uthie menekuni Meditasi dan Pranayama, 2 hal yang menurutnya adalah bagian dari 8 anak tangga Yoga yang banyak terlupa.

“Dengan mempelajari meditasi kita mampu melihat lebih dalam lagi ke dalam diri, karena saya percaya ketika yang di dalam tertata baik, terselesaikan dengan baik dan tenang maka vibrasinya akan sampai pada apa yang ada di luar,” tegasnya.

Saat mengajar, Uthie menerapkan prinsip berikut: “Dengarkan badan Anda. Jangan memaksakan, istirahatlah jika capek. Tidak masalah kalau mau istirahat karena jika dipaksana malah semakin capek.” (*/)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *