Dien Hanaryati: ‘Badan Papan’ Jangan Dijadikan Halangan 

Kaku seperti papan. Begitu kata Dien Hanaryati dengan jujur mengenai tipe tubuhnya. Namun, alih-alih seperti kebanyakan orang yang menjadikan badan kaku sebagai alasan untuk menolak mencoba yoga, badan seperti itulah yang membuatnya terdorong untuk berlatih yoga secara teratur.

Dien juga memiliki tujuan lain dalam beryoga. Ia ingin mencari komunitas yang mempunyai hobi olahraga dan semangat yang sama dalam cara hidup sehat.

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. “Hingga pada awal tahun 2013, saya diperkenalkan [pada yoga – pen] oleh Dian Nitami dan Anjasmara, kemudian latihan dalam private group dengan Milanda Soenarto [Mimi] di Studio Yoga Asmaradana,” kenang perempuan yang mengaku terinspirasi oleh Arief Sentosa, seorang pengajar yoga Jivamukti terkemuka di Indonesia.

Dari sosok Arief, Dien memiliki kriteria pengajar yoga yang baik. “Seorang guru yang  baik  dapat membangkitkan energi positif, tidak membuat murid merasa terintimidasi. Selesai kelas, para murid pun merasa happy,” ujar perempuan yang juga menyukai kegiatan bereksperimen dengan resep-resep makanan baru ini.

Tidak berhenti dan puas sampai di situ, Dien melanjutkan latihan yoganya serta mengikuti pelatihan mengajar yoga (Yoga Teacher Training) di GudangGudang. “Hingga sekarang  [saya] tetap latihan di Asmaradana dengan beberapa guru serta di Jivamukti Indonesia dengan Susy Lembong dan Arief”.

Pada para pembaca YogaGembira.com, ia berbagi soal manfaat beryoga. “Badan [menjadi] tidak terlalu kaku, agak lebih lentur, tetapi juga lebih kuat, napas lebih teratur serta pikiran saya lebih tenang,” ungkap Dien yang sudah mengikuti pelatihan mengajar yoga dengan selama 200 jam bersama YogaMaze, LearnYoga @GG, Jakarta dan YogaEd di Kids Yoga Jakarta, di bawah naungan Tina Maladi, Jakarta.

Dien yang menggandrungi pose-pose inversi ini menemukan kenikmatan yoga dalam dua jenis kelas. “Saya suka kelas Hatha dan Vinyasa. Hatha, karena ada kesempatan bagi saya untuk membenarkan alignment badan saya pada setiap pose. Sementara saat kelas Vinyasa, saya dapat merasakan keselarasan antara setiap tarikan nafas dengan setiap gerakan.”

Agar badan kakunya tidak kembali kaku, Dien memiliki komitmen untuk memelihara rutinitas yoganya. Ia setidaknya berlatih 2 sampai 3 kali seminggu di studio. Sementara itu, di rumah ia meluangkan waktu paling tidak setengah jam untuk melakukan postur-postur dasar demi meregangkan bagian-bagian tubuh yang terasa tidak nyaman.

Saat ditanya soal asana yang membuatnya berjuang keras, ia menyebut pincha mayurasana (peacock pose) dan padmasana (lotus pose). Untuk pincha, ia sedang belajar menemukan keseimbangan agar kedua kakinya dapat ditahan di atas. “Saya tidak suka padmasana karena pergelangan kaki dan pangkal paha saya kaku sekali. Jadi susah untuk melipat-lipat,” katanya blak-blakan.

Dari atas mat, Dien yang tertarik dengan nilai ahimsa dalam filosofi yoga ini mencoba membawa yoga yang ia pelajari ke luar mat dan kelas. Ia meleburkan nilai-nilai yoga ke dalam rutinitas sehari-hari dengan mencoba “lebih aware dari mulai berdiri, duduk, dan juga menyikapi suatu hal”.

Setelah sekian lama berlatih, pengajar kelas-kelas privat ini yakin pada satu simpulan bahwa yoga  memberikan vitalitas baru, kelenturan, rasa percaya diri, konsentrasi yang tinggi dan fokus serta tenang.

Kini setelah berada dalam posisi sebagai pengajar, ia merasakan pentingnya mengendalikan perkataannya. “Tutur kata saat mengajar harus ditata dengan baik. Jangan sampai keluar kata-kata yang membuat murid jadi down.”

Di kelas pertama yang ia ajar, Dien masih ingat perasaan gugupnya yang tidak terbendung. Namun setelah kelas perdananya, ia belajar banyak. Kini ia tahu bahwa ternyata setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, dan pengajar harus tahu beberapa opsi gerakan untuk diberikan kepada murid.

Akan seperti apa kelas Dien nanti? Datang saja ke Taman Suropati. (*/Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *