Dionisius Henry: Dari Beladiri Sampai Jadi Yogi

 

Tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak mengenal yoga, Dionisius Henry memiliki perjalanan yoga yang unik. Guru yang kerap memakai nama “Campur Sari” dalam menamai kelas-kelasnya ini pernah menekuni banyak hal sebelum akhirnya berkecimpung dalam dunia yoga dan menekuninya secara profesional. Bersama Yoga Gembira, ia berbagi banyak hal, terutama soal perjalanan yoganya sampai di titik yang sekarang ia capai. Berikut petikannya untuk sobat Yoga Gembira.

 

Bagaimana dan sejak tahun berapa Anda bisa tertarik ke yoga?
“Pertama kali saya mengenal yoga melalui buku terbitan Ananda Marga yang membahas tentang tingkat kesadaran (kosha) pada tahun 1993. Saya mengenal asana yoga tahun 2010 saat menjadi member di salah satu mega gym.”

Kemudian bagaimana perjalanan Anda dari sana sampai bisa seperti sekarang?
“Saat mulai rutin latihan di mega gym justru bekas-bekas cedera masa lalu saat menekuni olahraga bela diri dan kebiasaan postural sehari-hari muncul. Semakin ngegym badan makin tidak enak. Bertanya ke PT di situ tidak ada yang bisa memberi jalan keluar. Akhirnya saya mengambil sertifikasi PT. Karena lebih tertarik pada latihan-latihan fungsional dan therapy maka saya melanjutkan belajar trigger point therapy dan ambil pelatihan mengajar yoga lokal. Baru pada tahun 2013 saya ikut yoga teacher training 200 jam dengan Denise Payne, dilanjutkan sampai 500 jam juga, dan Yin Yoga teacher Training 100 jam dengan Sebastian Pucelle dan 50 jam dengan Chris Su. Karena passion saya di bidang therapy, saya lanjutkan ambil pelatihan mengajar Sparsa Yoga dengan Fank Andreas di Malang.

Apa spesialisasi Anda dalam yoga dan mengapa memilih itu?
“Spesialisasi saya adalah program yin yoga & trigger point therapy atau bahasa gaulnya ‘ngilu-ngilu wenak‘. Sebenarnya tidak ada alasan saya memilih spesialisasi ini, karena memang terjadi begitu saja dan seiring dengan passion saya di bidang therapy.

Siapa guru yoga dan pelajaran darinya yang paling diingat sampai sekarang? Dan kenapa?
“Justru inspirasi saya bukan datang dari guru yoga tapi dari mentor saya waktu ambil sertifikasi PT. Beliau selalu mengajarkan berpikir ‘out of the box‘ dan cek manfaatnya ke badan kita sendiri (functional exercise).”

Bagaimana kira-kira rutinitas harian Anda dan bagaimana yoga diintegrasikan ke dalam rutinitas tadi?
“Yoga sangat membantu rutinitas harian saya. Dengan yoga saya bisa mengerti cara duduk, berdiri, bergerak secara efisien, efektif dan aman. Dan dengan yoga juga saya bisa mengembalikan keseimbangan fungsi dan postural badan saya setelah aktivitas yang berlebihan.”

Adakah pengalaman pertama yang tidak terlupakan selama tahun-tahun pertama mengajar?
“Pengalaman tak terlupakan dalam tahun-tahun pertama banyak sekali sebenarnya. Yang menarik untuk diceritakan justru yang tahun-tahun terakhir ini di mana menghadapi hal yang tidak menyenangkan tapi justru itu pintu gerbang untuk bertemu dengan sahabat dan kejadian yang menyenangkan.”

Bagaimana bisa sampai memilih nama “yoga campursari” sebagai ciri khas dalam mengajar?
“Pemilihan nama ‘Campur Sari’ sama seperti program ngilu-ngilu wenak terjadi secara tidak sengaja. Nama ini berdasarkan filosofi tiap aliran yoga berasal dari satu sumber yang sama.”

Buku bertema yoga apa yang paling Anda sukai atau sering jadikan rujukan saat mengajar? Dan kenapa?
“Buku yang saya jadikan acuan dalam mengajar adalah catatan pengalaman saya sendiri yang saya dapat ketika berlatih sendiri atau sedang duduk minum kopi sendiri.”

Pesan apa bagi mereka yang masih malas atau belum berani masuk ke kelas yoga?
“Bagi yang masih malas atau takut masuk kelas yoga perlu diprovokasi lewat tulisan-tulisan Akhlis.”

Apakah hobi Anda yang sering dilakukan saat tidak sedang mengajar yoga?
“Hobi saya di luar mengajar yoga adalah lari dan membaca.”

Apakah rencana Anda ke depan dalam waktu dekat ini terkait yoga?
“Rencana saya dalam waktu dekat meluncurkan program Trigger Point Functional Integration Therapy suatu program yoga untuk mengembalikan badan kita ke fungsi posturalnya kembali (spooring balancing).” (*Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *