DISRUPTION

Kemunculan sosial media di awal 2000-an memberi dampak yang sangat berarti dalam kehidupan bermasyarakat. Gelombang media dan teknologi informasi ini memasuki dua ranah penting bagi peradaban manusia yaitu: kebebasan dan perubahan. Di dua ranah ini akan terlihat adanya parodoks dan konsekwensinya masing-masing. Dengan gawai atau smartphone, sekarang orang dengan mudah bebas mendapat informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terbatas sifatnya. Hubungan manusia dengan perangkat teknologi informasi membawa juga perubahan pada kebiasaan dan cara melakoni hidup sehari-hari. Kemudahan mendapat infomasi di satu pihak, bisa juga berakibat berkurangnya gerak tubuh seseorang. Yang dulu akses untuk mendapatkan informasi bisa dibatasi oleh kontrol dan peraturan negara serta minimnya prasarana dan sarana tekonologi, sekarang segala macam sumber pengetahuan bisa didapat dari genggaman tangan, berjarak hanya hitungan centimeter dari mata kita. Untuk belajar orang tidak harus berjalan jauh dan berpeluh. Profesor, guru, ilmuwan, atau orang-orang bijak dengan nama besar dari wilayah dan kurun waktu berbeda bisa dibaca karya dan buah pikirannya saat ini juga, di layar smartphone di hadapan kita untuk kemudian dijadikan rujukan dan panduan hidup utama. Berkurangnya gerak tubuh fisik bisa mengurangi peredaran darah dan oksigen ke seluruh tubuh yang akan berakibat pada berkurangnya derajat kesehatan tubuh. Mencari dan berorientasi selalu “ke luar”, kadang terbangun mental ‘meremehkan’ atau melupakan sumber dan potensi yang bisa jadi sudah ada dan tersedia di dekat kita.

Di dunia ilmu pengetahuan yang sangat berjasa bagi fenomena kemajuan peradaban ini, kita harus menyebut James Watt penemu mesin uap; Hendry Ford – di bidang industri manufaktur; Steve Jobs dengan produk Apples; Elon Musk dengan Tesla, Space X, dan Hyperloop-nya. Namun demikian tidak kalah pentingnya peran anak-anak muda dalam negeri yang membuat dunia usaha tanah air menjadi semarak dan bergairah, seperti Nadeem Makarim, pendiri Go-Jek dengan layanan transportasi berbasis online, sehingga biaya perjalanan menjadi murah dan cepat. Dengan mitra pengemudi yang saat ini sudah mencapai lebih dari dua juta orang, menolong mitra mendapat pekerjaan. Ada juga Andrew Dawis pendiri Kas-Kus. Selain mereka berdua, masih ada banyak usaha start-up yang dibangun oleh pengusaha muda kreatif Indonesia yang cara berusahanya mengambil jalan tidak konvensional. Anak muda ini berani merombak tatanan tata kelola bisnis yang sudah umum dan terlanjur mapan dengan membangun sesuatu yang baru (strip in down and shape it up), seperti Tokopedia, Buka Lapak, Traveloka, Shope. Pada awalnya mungkin mereka dianggap aneh dan tidak sopan, namun seiring berjalannya waktu, setelah melihat kinerja dan masyarakat merasakan hasilnya, mulai orang mengapresiasinya dan regulasi dari pemangku kepentingan akan menyesuaikan. Inovasi yang mereka ciptakan dan cara melakoni bisnis yang bersifat progresif, mereka berani meninggalkan struktur dan aturan yang rigid – berbelit. Usaha rintisan mereka yang melibatkan dan berjalan bersama para mitra, kapitatilasasi usaha yang terus meningkat, seperti tumbuh bersama dengan pihak-pihak yang kerap direndahkan menjadi mulia, atau mengangkat ke permukaan yang sebelumnya tersembunyi.

Terhadap fenomena yang dikenal dengan “disruption” ini, kita bisa katakan bahwa sesungguhnya mereka menciptakan ruang kebaruan untuk mendapatkan keseimbangan (balance) dalam kehidupan nyata yang terus berubah, berkembang, dan bertransformasi. Dengan kekuatan yang berdasar ide dan inovasi, serta memberi ruang pada cara berpikir baru, disruption memberi jalan untuk sesuatu yang baru. Selalu.

Fenomena disruption ini, dalam derajat tertentu terjadi juga di dalam dunia peryogaan, walaupun tidak serevolusioner dan sedramatis seperti dalam dunia usaha. Asana atau postur yoga yang pada awal perkembangannya hanya berjumlah dalam hitungan jari, sekarang telah tercipta ribuan, bahkan ratusan ribu asana baru. Praktek yoga yang dulu hanya dipraktekkan di India, di pegunungan Himalaya, di tepi sungai Gangga, sekarang yoga telah dapat menjangkau seluruh penjuru dunia, ke pelosok desa-desa Nusantara, dan dilakoni juga oleh orang dengan aneka profesi dan latar belakang.

Pada pelaksanaan Yoga Gembira Festival (YoGFest) tahun ini, kami, Komunitas Yoga Gembira mengangkat tema “DISRUPTION” dengan kesadaran bahwa, agar dunia peryogaan di Indonesia tumbuh berkembang secara bijak dan lestari, perlu menciptakan ekosistem yang kondusif dengan menghoromati keberagaman dan mengangkat potensi praktisi yoga yang selama ini terhalang oleh nama besar tokoh di dunia peryogaan yang telah mapan, mengajak serta guru-guru yoga dari luar Jakarta agar tidak menjadi Jakarta sentris. Pada perhelatan festival yoga ini, kami ingin sama-sama menyadari bahwa dunia yoga perlu bersinergi dan membangaun jembatan kerjasama untuk memperluas cakrawala dengan bidang keilmuan, atau dunia di luar disiplin yoga – karena yoga adalah produk budaya yang tidak terlepas dari masyarakat – orang yang mempraktekkannya, seperti dengan ilmu sejarah, antropologi, arkeologi. Tidak salah jika tempat pelaksanaannya kali ini di Museum Nasional, asset yang menjadi kebanggan negara, karena kami berharap yoga bisa diakui milik bangsa mengingat unsur kesejarahannya. Di festival yoga dengan konsep dan semangat menghadirkan yang baru ini, kami memberi ruang seluas mungkin pada guru-guru, faculty, instruktur, atau praktisi yoga untuk mengekplorasi kerjasama-kerjasama itu sebagai sarana penyaluran kebebasan jiwa yang menjadi tujuan utama dalam berlatih yoga. Karena itu, selain kelas-kelas yoga asana seperti umumnya dalam suatu festival yoga, kami menghela seminar dan diskusi, workhop, selain bazaar baik tentang unsur-unsur yang terkait langsung dalam yoga, seperti dalam rumusan Eight limbs of Yoga Sutra Patanjali, ataupun bidang, tradisi, atau disiplin lain sebagai gaya hidup (lifestyle) dimana yoga menjadi terkait. Karena festival adalah juga sebuah perayaan, maka dalam YoGFest ’18 ini kami ingin menghadirkan aroma seni dan budaya yang berujud dalam [ertunjukan seni seni tari, musik, atau pameran seni rupa. Dengan niat, semoga lewat festival yoga ini, yoga dapat menjadi saluran katarsis atas hidup yang tidak selalu mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *