Dyah Synta: Yoga Menjadi Cara Berkomunikasi Dengan Diri

Lahir di Bandung, pengajar yoga satu ini pertama kali mengenal yoga tahun 2011. Saat itu ia sambil berkenalan juga dengan olahraga-olahraga yang lain.

“Tahun 2016 saya memutuskan untuk mulai mengajar yoga karena menemukan banyak kebaikan dalam beryoga yang tidak ditemukan dalam olah raga yang lain,” ucapnya dalam wawancara melalui WhatsApp dengan Yogagembira.com.

Begitu rajin beryoga, Dyah merasakan perubahan dalam tubuh fisiknya. “Saya jadi lebih menikmati mengonsumsi buah dan sayur. Dari situ saya merasa yoga sangat membantu saya untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh tubuh saya. Yoga menjadi cara saya untuk ‘berkomunikasi’ dengan apa yang terjadi di dalam diri saya.”

Kini, ia beryoga setiap hari. Baginya, beryoga tidak harus berasana dan tidak harus selalu dilakukan di atas matras. “Saya menganggap setiap hal yang saya lakukan sehari-hari sebagai upaya untuk mengenal dan menyeimbangkan jiwa, akal, dan raga saya sebagai yoga. Karena itu, setiap kegiatan dapat saya jadikan sebagai ‘yoga practice’–termasuk makan, minum, dan istirahat,” ungkap perempuan yang menyukai savasana ini.

Menurut Dyah yang menyukai Vinyasa Yoga karena bisa menemuka banyak kejutan di dalamnya itu, tujuan dirinya beryoga ialah untuk “mengenali dan mencintai jiwa, akal, dan raga sendiri”.

Sebagai seorang pembelajar, ia merasa bahwa sosok guru yoga yang bisa memberikan bimbingan maksimal ialah sosok yang percaya pada keunikan dan karakternya sendiri sebagai pengajar, dan menghargai keunikan serta karakter setiap murid yang ia temui di dalam kelas.

Lalu siapa guru yoga favoritnya? “Semua guru yang pernah saya temui menginspirasi dengan cara masing-masing,” tukasnya diplomatis.

Setelah memutuskan terjun sebagai pengajar yoga, Dyah mengalami pengalaman menarik di awal mengajar yoga. “Murid pertama saya adalah sahabat saya sejak kuliah. Setelah kelas selesai, sahabat saya menangis. Katanya, dia tidak menyangka bahwa setelah perjalanan hidup yang penuh lika-liku saya bisa menjadi seorang pengajar yoga,” kenang perempuan yang mengaku selalu jatuh cinta dengan prinsip chakra dan penerapannya yang sangat luas dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, Dyah yang memiliki hubungan cinta-benci dengan asana backbending ini berusaha menerapkan segala sesuatu yang ia pelajari di atas matras ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Tapi prinsip yang paling saya sukai adalah berusaha menerapkan tadasana dalam setiap asana–dan karena itu, dalam setiap pergerakan yang saya lakukan, mulai dari cara berjalan, sampai menyapu dan mengepel rumah,” terang instruktur yang menekankan manfaat-manfaat asana untuk jiwa, akal, dan raga dalam setiap kelasnya ini.

Terkait asana, menurutnya kesempurnaan dalam melakukan asana sifatnya sangat subjektif dan tidak bisa disamaratakan. “Yang terpenting bagi saya, setiap asana bisa dilakukan dengan aman dan tercapai manfaatnya untuk setiap individu.”

Selain asana, aspek yoga yang tak kalah menarik bagi Dyah ialah ‘ahimsa’ yang merupakan poin pertama dari yama–karena menurutnya sejalan dengan ajaran Islam untuk selalu memulai segala sesuatu dengan ucapan basmalah. “Baik ahimsa maupun basmalah adalah pengingat untuk melakukan segala sesuatu atas dasar cinta dan kasih sayang.”

Sebagai salah satu praktisi yoga di nusantara, Dyah mengamati perkembangan yoga yang sangat pesat dan sangat beragam. Ia sangat suka dengan fakta bahwa saat ini ada semakin banyak variasi dalam beryoga. Dyah percaya setiap individu memiliki kebutuhan yoga yang berbeda-beda, bahkan kebutuhan yoganya hari ini bisa jadi berbeda dengan kebutuhan yoganya minggu depan.

Sekarang di masa pandemi, Dyah masih mengajar kelas privat dan sebuah studio di Bandung. Namun, ia mengaku lebih aktif mengajar secara daring (online).

Penyuka aktivitas membaca dan merajut ini akan membawakan kelas yang berjudul “Joyful Movement” akhir pekan ini di Instagram Live Yoga Gembira. Jangan lewatkan! (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *