Evita Yuniarti: “Ketahui Apa yang Dibutuhkan, Bukan Diinginkan”

 

Asal kata yoga yaitu “yuj” bermakna penyatuan (union). Para pelakunya tidak hanya menyatukan pikiran, raga, dan napasnya saja tetapi juga dituntut untuk bisa merasakan bahwa semua bagian tubuh kita bergerak untuk satu tujuan dan satu fokus. Inilah yang menurut Evita Yuniarti, instruktur yoga yang akan berbagi di Komunitas Yoga Gembira pada tanggal 1 Maret 2020, paling menarik dari ajaran yoga.

Evita mengenal yoga untuk pertama kalinya di tahun 2006. “Saat itu saya masih jadi member salah satu megagym di Jakarta. Setelah setahun menjadi member, saya disarankan Mas Slamet Riyanto untuk belajar di luar gym,” tutur perempuan yang mengakui sering menggunakan sekuen Ashtanga Primary Series dalam latihan yoga hariannya ini.

Sebagai pemula, dahulu ia banyak belajar dari Riana Singgih dan Devki Desai dari Ramamani Iyengar Memorial Yoga Institute (RIMYI) melalui workshop.

“Setelah mengikuti workshop, saya menjadi tahu bahwa yoga yang saya ikuti di pusat kebugaran/ gum itu belum ada apa-apanya. Iyengar Yoga membuka mata saya tentang yoga khususnya asana. Sejak itu saya jatuh cinta dengan Iyengar Yoga,” tutur Evita yang kini melakukan self practice dengan menggabungkan antara Ashtanga dan Iyengar Yoga ini.

Meski begitu, ia tidak menutup diri untuk belajar style yoga lainnya. “Selain di gym, saya latihan yoga dengan Pak Arif Sentosa waktu beliau masih mengajar di Anahata Wellness di FX Sudirman dan di Roger Senopati,” ungkapnya.

Evita pribadi yang suka belajar. Ia mengikuti sejumlah workshop, dari Tripsichore Yoga (Edward Clark), Acro Yoga (Richard Baimbridge dan Doris Voon), Anusara Yoga (Noah Maze, Ross Rayburn, Tara Judelle), dan Iyengar Yoga (Olop Arpipi, Faeq Biria, Cle Souren).

“Saya juga berlatih Asthanga Yoga dengan beberapa guru walaupun tidak sampai lulus primary series. Saya mengikuti Yoga Teacher Training oleh Denise Payne tahun 2015 dan 2016. Saya ikut Iyengar convention pertama di Asia tahun 2016 yang dipimpin langsung oleh cucu (alm) guruji B.K.S. Iyengar yaitu Abhjjata Iyengar,” tuturnya panjang lebar mengenai pengalamannya menimba ilmu.

“Tujuan saya mengajar supaya orang lebih memahami bahwa yoga bukan cuma tentang asana. Bukan cuma hanya bisa inversion, funky arm balance, gorgeous backbend, dan sebagainya.”

Tetapi yang lebih penting adalah memahami dan kenal dengan badan kita, mengetahui apa yang tubuh butuhkan, bukan yang kita inginkan. Lebih mendengarkan tubuh karena buat saya akan lebih baik dalam belajar yoga bukan hanya bisa tapi paham, kata instruktur yang menganggap Olop Arpipi sebagai inspirasi bagi dirinya dalam mengajar yoga.

Ditanyai mengenai sosok guru yoga yang ideal, Evita dengan diplomatis menjawab bahwa seorang guru yang baik pada intinya harus bisa menuntun muridnya dari kegelapan menuju ke jalan yang terang, dari ketidaktahuan menjadi tahu dan paham. Itu karena ‘ideal’ memiliki sifat yang tidak mutlak alias relatif. “Tidak ada manusia yang sempurna. Guru yoga bukan dewa. Jangan sampai timbul persepsi bahwa seorang guru yoga harus menguasai sekian ribu asana. Setiap orang memiliki spesialisasinya masing-masing,” tandasnya.

Yoga bagi Evita juga lebih dari sekadar alat untuk menjaga kesehatan. Praktik kuno dari India ini mengajarkan padanya mengenai manajemen emosi. Ia mengakui dirinya bukan tipe orang penyabar. “Sebelumnya saya berpikir jika orang lain bisa, saya juga bisa melakukan, dan sebaliknya. Namun, setelah mengajar yoga, makin saya paham bahwa tidak demikian adanya. Saya tidak bisa memaksa seseorang melakukan satu asana jika ia belum siap untuk itu. Kalaupun bisa, diperlukan proses dan waktu,” terang Evita.

Karena itulah, kini ia mulai menanamkan sifat sabar dalam kehidupan sehari-hari. Evita yang menyukai aktivitas naik gunung ini menjelaskan, “Saya lebih santai saja sekarang terutama dalam menghadapi masalah. Lebih ‘let go’, tetapi bukan berarti juga bersikap masa bodoh. Saya berusaha belajar untuk menerima dan memahami setiap orang dan segala permasalahan yang ada karena dalam belajar asana juga seperti itu. Kalau belum bisa ya sudah. It’s not the end of the world. Masih harus latihan lagi. Sabar.”

Dari pengamatannya, yoga di nusantara sekarang berkembang dengan pesat dan memiliki banyak ragam. “Jika dibandingkan dulu awal saya kenal yoga, sekarang yoga lebih mudah diterima karena sudah banyak komunitas yoga di luar ruang. Orang-orang tidak lagi beranggapan bahwa yoga itu berhubungan dengan agama. Sekarang juga lebih mudah untuk mendapatkan sertifikat mengajar yoga. Dulu pelatihan mengajar saja sangat jarang.

Selain itu, Evita mengaitkan maraknya yoga di Indonesia saat ini juga karena sudah banyak juga yang mendapatkan manfaat dari yoga. “Makanya makin banyak orang yang mau belajar, dengan tujuan  masing-masing padahal dulu yoga sempat dipandang sebagai olahraga kaum perempuan saja dan yoga ‘hanya’ duduk diam meditasi meskipun sekarang pun masih ada yang berpendapat seperti itu,” ucapnya.

Evita mulai memberanikan diri mengajar di depan teman-teman kantornya. “Tujuannya supaya saya tidak lupa dengan apa yang sudah dipelajari karena guru saya bilang mengajar itu juga belajar. Waktu mulai mengajar di gym, saya mengisi kelas instruktur senior yang memiliki banyak fans tapi ia sendiri harus pindah. Saya tidak merasa gugup. Hanya saja saya takut lupa sequence sehingga saya membawa contekan ke kelas. Tapi 3 bulan kemudian saya mengajar mengalir apa adanya walaupun sempat dipandang sebelah mata oleh para member karena saya pengajar baru.” (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *