Hendri Take: “Yoga Bukan Hanya untuk Wanita”

Tumbuh di keluarga yang menggeluti dunia bisnis, Hendri Take belum pernah mengenal yoga. Hingga akhirnya 12 tahun lalu ia iseng masuk ke sebuah kelas saat bingung mengisi waktu senggang. “Saat itu saya baru masuk kuliah dan untuk mengisi waktu luang, saya mengikuti yoga,” kenang pengajar yoga satu ini. Alasannya menyukai yoga simpel saja: karena ia merasa lebih baik dan percaya diri.

Di awal persentuhannya yang sekilas dengan yoga, Hendri yang juga suka berbisnis dan melancong itu hanya menganggap yoga sebagai sebuah latihan peregangan. Tidak ada yang istimewa dengan yoga, mirip dengan serangkaian gerakan stretching biasa yang dilakukan orang-orang sebelum dan sesudah berolahraga.

Akan tetapi, yoga lebih dari sekadar peregangan otot yang kaku dan pendek. Begitu melakukan yoga dengan teratur setiap hari sampai sekarang, Hendri merasakan sejumlah manfaat yang langsung dapat ia nikmati. Ia tidur lebih nyenyak, emosinya lebih terjaga, gaya hidupnya berubah. “Saya juga lebih sadar atau aware dalam melakukan sesuatu,” ia mengaku.

Namun, ia tidak menganggap yoga hanya sebatas olahraga. “Tujuan utama saya dalam menekuni yoga ialah meningkatkan kesadaran terhadap tujuan saya dan sekaligus memberi saya alat untuk menjalani hidup. Dunia ini penuh dengan kompetisi dog-eat-dog dan saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa pada akhir hidup saya, hanya “saya menjadi saya,” tuturnya bijak. “Jika orang lain ingin mengorbankan dharma mereka dengan berkompetisi dan tidak autentik, itu pilihan mereka, tapi saya memilih untuk menjadi asli dan apa ada nya dalam segala hal yang saya lakukan.”

Mengenai guru yang paling diingat karena memberikannya inspirasi, pria yang menganggap yoga sebagai suatu seni tentang kehidupan ini menyebut nama Arif Sentosa. “Karena beliau informatif dan sabar saat memberikan pelatihan yoga,” jelas Hendri. Arif ia anggap sosok guru ideal yang rendah hati dan baik hati.

Jenis yoga yang Hendri pilih ialah Hatha, Ashtanga serta Anusara Yoga yang ia sukai. Selain itu, ia juga merasa cocok dengan tipe latihan yoga yang enerjik, dinamis dan bertenaga seperti itu.

Berkepribadian pemalu membuat Hendri merasa gugup saat mengajar pertama kalinya. Ia mengingat bagaimana rasa grogi dan keringat mengucur deras karena belum banyak pengalaman dan memberikan instruksi di hadapan banyak orang yang menjadi murid yoganya.

Hendri yang telah mengikuti pelatihan mengajar yoga di program Anusara 200 Hours Yoga Alliance dan Ashtanga Workshop ini merasakan adanya ambivalensi dalam berlatih gerakan backbend. “Saya menyukai sekaligus juga tidak menyukai latihan backbend sebab proses untuk pemasanannya lama dan banyak yang dikerjakan. Karena persiapan yang makan waktu lama itu, akhirnya mau tidak mau saya harus menikmati prosesnya.” Rupanya, kesabaran di dalam latihan ini ia turut bawa pula dalam aktivitas sehari-hari. “Saya menjadi lebih sabar dalam melihat segala sesuatu,” ujarnya saat ditanya bagaimana yoga memengaruhi kehidupannya sehari-hari.

Selama ini yoga identik dengan kaum Hawa. Hendri menolak asumsi tersebut. Ia menyatakan yoga bukan hanya untuk wanita karena nyatanya pria akan mendapatkan manfaat lebih dari wanita. “Meskipun saat ini wanita lebih mendominasi studio yoga tapi keadaan mulai berubah semakin banyak pria yang menemukan caranya mereka untuk memulai, melakukan perengangan, penguatan, pernapasan dan terbuka melalui yoga karena yoga membantu meningkatkan kualitas hidup.”

Banyak yang mengenal Hendri sebagai sosok pengajar yoga yang populer di media sosial. Dalam pandangannya, media sosial berperan signifikan dalam membantu perkembangan yoga di tanah air selama beberapa tahun terakhir ini. “Sebagai pengajar yoga yang aktif di media sosial, saya pikir media sosial memiliki sisi plus dan minusnya. Mau tidak mau kita harus ada di media sosial karena mesti mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak, kita sendiri akan tertinggal. Plusnya, saya merasa terbantu untuk memasarkan diri sebagai pengajar yoga dan mendapat banyak relasi. Sisi minusnya ada risiko menjadi ketergantungan dengan media sosial. Kembali lagi kita harus pintar mengelola dan berbagi informasi positif mengenai yoga di dalamnya,” terangnya panjang lebar.

Rutinitas sehari-hari seorang Hendri Take di samping yoga dan olahraga ialah kesibukan menangani bisnis keluarga di bidang fashion, bisnis minuman jamu, dan menjadi influencer dan ambassador dari sejumlah brand.

Ditanya mengenai keinginannya untuk mendalami ilmu yoga di masa datang, ia menjawab,”Rencana ke depan dalam karier yoga saya ialah akan melengkapi Training Vinyasa 300 jam dan menambah Teacher Training lainnya. Saya juga ingin memiliki tempat khusus untuk yoga.” (*Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *