Hendrik Abraham: Serius dan Senang Alignment

Memiliki dansa sebagai salah satu hobi utamanya, Hendrik Abraham telah mengenal yoga sejak lama. Lebih dari sepuluh tahun lalu, ia menjajal kelas yoga perdananya. “Saya pertama kali ikut yoga kalau tidak salah pada tahun 2005 pada event yang diadakan oleh sebuah majalah,” ujar pria yang juga gemar menyanyi ini.

Dari kelas yoga pertamanya itulah Hendrik mendapatkan pelajaran berharga. Asumsi bahwa yoga adalah olahraga yang ringan dan tidak menguras keringat ternyata terpatahkan setelah itu. Ia berkomentar bahwa meskipun bisa dilakukan semua orang yang memiliki niat, “yoga itu bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan”. Ternyata meski kita tidak meninggalkan mat yang kita injak selama latihan yoga dan tidak berlari, meloncat atau berjalan cepat layaknya saat menari, tubuh bisa bersimbah peluh dan menjadi segar bugar juga. Selain itu, yoga juga sederhana namun memberikan manfaat kesehatan lahir batin yang berlimpah bagi mereka yang rajin melaksanakannya.

Penyuka Hatha Yoga ini mengakui dirinya selalu berusaha menyempatkan diri untuk berlatih yoga. Setidaknya dua hari sekali, terangnya. Alasan lain Hendrik menyukai Hatha Yoga juga karena bila ia yakin jenis yoga yang berorientasi pada gerakan fisik ini bisa dipraktikkan oleh semua manusia tanpa memandang keyakinan dan agama mereka. Aspek universalisme yoga inilah yang ia kedepankan saat ada orang yang ragu dengan yoga karena dianggap bertentangan dengan relijinya.

Untuk memperdalam pengetahuannya mengenai yoga, Hendrik kemudian mengikuti pelatihan mengajar yoga (yoga teacher training) di Indonesia Yoga School (IYS). Tak cuma di situ, ia juga sudah mengikuti pelatihan mengajar yoga untuk anak-anak (kids yoga). Begitu mulai mengajar pertama kali, Hendrik telah mendapatkan respon positif dari muridnya.

Ditanya mengenai tujuan paling utama dalam beryoga, Hendrik yang mengajar secara reguler di The Boutique Apartment Jakarta ini menjawab “untuk membagikan [pendekatan -pen] holistik dalam yoga”.

Sebagai pengajar yoga, Hendrik berusaha untuk menjadi sosok guru yang ramah, rendah hati dan tidak sombong. Inilah kriteria pengajar yoga yang ia yakini baik dan mampu menyebarkan pengetahuan yoga yang holistik. Ia gambarkan dirinya sebagai pengajar yoga yang “serius, sangat senang dengan alignment (prinsip ketepatan dan akurasi anatomis dalam setiap asana yang dilakukan dengan tujuan menghindari cedera – pen)”.

Sebagaimana para pelaku yoga kebanyakan, Hendrik juga memiliki asana favoritnya. “Saya suka tree pose karena sederhana tetapi banyak manfaatnya. Dan bagi sebagian orang ternyata tidak mudah.”

Sebaliknya, ia kurang menyukai satu asana yang justru relatif populer dan menjadi dambaan banyak pelaku yoga asana, yakni headstand. “Alasan saya kurang suka headstand ialah karena setelah melakukannya saya merasakan pegal di area bahu dan leher,” ungkapnya blak-blakan.

Yang didapatkan Hendrik dari latihan yoga rutinnya ternyata tidak hanya kesehatan jasmani. Ia juga merasakan dampak lain latihan yoganya dalam sikap kesehariannya. Ia mengaku banyak belajar untuk menjadi sabar sejak mengenal yoga.

Di samping pembelajaran kesabaran dalam menjalani kehidupan ini, Hendrik juga mengaku terkesan dengan Ahimsa atau prinsip tidak menyakiti makhluk hidup lain di sekeliling kita. (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *