Hidup Beryoga Adalah Hidup Berbagi

Jpeg

Yoga sangat mengandalkan pernafasan yang tepat. Itu kunci kelas yoga yang dibawakan Yudhi Widdyantoro di Yoga Gembira Festival 2016, pada Minggu, 17 April 2016.

Pukul 07.00 WIB kelas yoga ala Yudhi dimulai. Langit cerah, udara segar. Semesta rupanya mendukung. Puluhan pelaku yoga datang dengan membawa matras, lantas menggelarnya di lantai kelas yang bersekat tiang-tiang ditutupi kain putih.

Khas Yudhi, dia memulai kelas yoga dengan menularkan pengetahuan soal manfaat yoga bagi diri sendiri dan sesama. Mengikuti yoga berarti belajar menghargai kejujuran dan keiklasan. Juga belajar menghormati yang lebih besar dari manusia itu sendiri.

Bila pelaku yoga mampu mengadopsi prinsip-prinsip yoga yang terangkum dalam Yama, niscaya hidupnya mulia. Prinsip itu yakni ahimsa, sata, asteya, brahmacarya, dan aparigraha.

“Ketika kita sudah menjalaninya, kita bisa menularkannya ke orang lain, paling dekat ya keluarga kita sendiri,” ucap Yudhi.

Layaknya pohon, Yama adalah akar. Cabang-cabang pohon adalah aliran-aliran yoga yang saat ini marak didengungkan. Seorang penggiat yoga, sah-sah saja mengikuti aliran mana pun, asalkan tak menihilkan Yama.

Penggagas Komunitas Yoga Gembira ini memang kerap berbagi pengetahuan soal yoga. Ya, berbagi menjadi landasan komunitas yang secara rutin menggelar yoga bersama pada Minggu pagi di Taman Suropati, Jakarta, ini. Maka, tak heran Komunitas Yoga Gembira punya slogan ”Beryoga, Bergembira, Berilmu dan Beramal.”

Usai membahas manfaat yoga, Yudi mulai menularkan teknik pengaturan nafas atau pranayama yang berguna mengontrol energi di dalam tubuh. Dalam posisi duduk bersila, dia meminta peserta untuk meletakkan salah satu telapak tangan di perut dan telapak tangan lainnya di tulang rusuk.

Peserta dapat bernafas perlahan-lahan, merasakan udara memenuhi paru-paru dan membuat diafragma mengembang. Lantas, ketika menghembuskan nafas, diafragma mengempis dan menekan ke atas.

Tahap selanjutnya, Yudhi mengajari Surya Namaskar atau Sun Salutation –  terdiri dari 12 asana –  yang digabungkan dengan pembelajaran sebelumnya soal teknik pernafasan.

Kelas dilanjutkan dengan melatih ketajaman pikiran. Di bagian ini, Yudhi meminta seluruh peserta menutup mata dengan kain hitam panjang yang dibawanya. Setiap peserta harus menutupi matanya dengan kain ini.

“Di sini kita akan melatih ketajaman pikiran. Dengan menutup mata, anda akan melatih konsentrasi di dalam pikiran anda,” kata Yudhi.

Surya Namaskar menjadi gerak perdana saat peserta menutup mata. Selanjutnya, beberapa gerakan diinstruksikan, termasuk pose pohon.

“Jangan berusaha menyontek orang lain. Cobalah jujur ke diri anda sendiri,” ucap Yudhi mengingatkan peserta.

Latihan selanjutnya yakni balasana atau child pose. Pose ini dilakukan bersama seorang kawan. Ketika seorang peserta melakukan balasana, kawannya mengusapkan telapak tangannya dengan cukup kuat dari tulang ekor hingga ke bahu peserta.

Kelas Minggu pagi itu diakhiri dengan meditasi singkat. Peserta merebahkan diri di atas matras, rileks dan bernafas seperti biasa. Sekitar 5 menit peserta diajak untuk mengistirahatkan tenaga dan pikiran.

Lantas, seluruh peserta diminta untuk duduk membentuk lingkaran besar. Telapak tangan kanan peserta melekat di telapak tangan kiri peserta sebelahnya. Begitu seterusnya hingga lingkaran itu tidak berujung.

Sambil memejamkan mata, setiap peserta dapat merasakan energi di dirinya dan energi kawan sebelahnya. Membagi energi positif kepada sesama, juga menerima energi positif dari sesama. Seperti yang dikatakan Yudhi di awal kelas: hidup beryoga adalah hidup berbagi. (*Gloria Natalia/ Foto: Gloria Natalia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *