Hubungan yang Sehat, Bebas dari Kekerasan (Sesi Berbagi Yayasan Pulih)

Irma S. Martam (duduk, ketiga dari kiri) bersama para peserta yoga yang mengikuti diskusi.

Sesuai dengan moto Komunitas Yoga Gembira “berilmu”, pekan ini (10/12/2017) hadir Irma S. Martam (psikolog dari Yayasan Pulih) yang menjadi narasumber untuk diskusi bertema “Hubungan yang Sehat, Bebas dari Kekerasan”. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan dalam berbagai bentuk pada kaum perempuan dan anak-anak yang memerlukan perlindungan. Karena sebagaimana kita ketahui, perlindungan dan kepedulian terhadap korban kekerasan rumah tangga ialah anak dan perempuan yang lemah tidak hanya di mata masyarakat tetapi juga di hadapan hukum. Mengapa? Karena perangkat hukum (undang-undang dan sebagainya) masih kurang memihak pada kaum perempuan dan anak-anak.

Diskusi diawali dengan pemaparan dari Irma mengenai definisi kekerasan yang tidak cuma berupa kekerasan fisik (pukulan misalnya). “Sering orang bertanya saat menyaksikan kasus kekerasan yang berakhir dengan pembunuhan. Bagaimana itu bisa terjadi?” Hal ini hanya ujung dari sebuah gunung es. Artinya kasus itu hanyalah puncak dari sebuah kumpulan masalah yang berakumulasi sebelumnya. Dan kasus yang dilaporkan sebetulnya hanya sebagian kecil dari yang terkuak. Sementara kasus lain tetap tersembunyi dan tidak terungkap sebab masyarakat termasuk kaum perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan sendiri belum mendapatkan edukasi yang maksimal mengenai cara mencegah dan menghadapi tindak kekerasan terhadap diri mereka sendiri. Meski diakui  makin tinggi di masyarakat kita sekarang, kesadaran itu masih perlu untuk ditingkatkan.

Bagaimana mencegah diri kita masuk dalam sebuah hubungan yang pada akhirnya menggiring pada hubungan yang penuh kekerasan? Irma menjelaskan bahwa  sebuah hubungan atau relasi sudah menjadi beracun/ toksik/ tidak sehat tatkala satu pihak mulai mendominasi dan menempatkan dirinya lebih tinggi dan opresif terhadap yang lain. Karena masyarakat kita masih sangat paternalistik (berorientasi pada dominasi pria), yang lebih sering terjadi ialah dominasi pria pada wanita dan anak-anak dalam rumah tangga yang mereka bina. Dan jika dominasi ini juga dirasakan oleh pihak lain sebagai sesuatu yang membuat mereka tertekan dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri karena terampasnya ruang privasi dan hak asasi sebagai manusia, maka sudah saatnya berbuat sesuatu agar terbebas dari hubungan yang kurang sehat tersebut.

Apa sajakah bentuk kekerasan yang perlu diwaspadai dalam sebuah hubungan?

  1. Kekerasan verbal: Banyak yang beranggapan bahwa selama tidak ada kontak fisik, tidak bisa dikatakan ada kekerasan. Padahal kata-kata yang bersifat negatif (makian, cemoohan, ancaman) sudah bisa dimasukkan sebagai kekerasan juga. Dan ini penting untuk diperhatikan karena dari sinilah, kekerasan itu akan mulai menggungung hingga nantinya bisa berujung pada kekerasan fisik yang tidak hanya melukai tapi bisa menghilangkan nyawa.
  2. Kekerasan sikap: Kecemburuan dan rasa posesif yang berlebihan tidak bisa dianggap normal. Apalagi jika sudah meniadakan ruang privat bagi pihak lain sampai tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Memaksakan kehendak dalam berbagai situasi juga bisa masuk ke sini.
  3. Kekerasan fisik: Di level ini, kekerasan sudah lebih konkret sehingga dapat diperkarakan. Namun, sekali lagi sikap dan pemikiran aparat negara dan masyarakat kita secara umum belum sebaik yang diharapkan. Kasus kekerasan fisik ringan sering masih bisa dianggap wajar dan aparat penegak hukum masih terkesan enggan campur tangan apalagi melindungi korban karena masalah itu dianggap isu rumah tangga yang bersifat internal dan tabu diumbar ke publik. Kekerasan fisik bisa berakhir pada perkosaan dan pembunuhan yang fatal.
  4. Kekerasan batin: Tidak jarang korban kekerasan dibuat kebingungan dan dilematis saat pelakunya meminta maaf lalu berjanji tidak akan mengulangi lagi namun ternyata kekerasan itu terulang kembali. Menurut Irma, pola semacam ini bisa terjadi sehingga membuat korban sangat tersiksa. Di titik ini, diperlukan bantuan agar kekerasan tidak berlanjut dan berkepanjangan.

Bagi Anda yang merasa dalam hubungan yang sehat, bukan berarti harus abai terhadap isu ini. Cobalah Anda lihat di sekitar. Adakah teman atau keluarga dekat yang mengalami kekerasan? Jika iya, saatnya Anda bertindak dengan menjadi pendengar yang baik atas segala keluh kesahnya. Sebaiknya tidak menghakimi korban kekerasan saat bercerita problem mereka karena akan menambah derita saja. Alih-alih menghakimi atau menyalahkan atas ketidakberdayaan mereka, ajaklah teman atau keluarga untuk mencari bantuan ke pihak lain yang berwenang seperti sekolah (jika masih siswa), kampus (jika masih mahasiswa), psikolog, dokter, polisi, atau lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada masalah penanganan kekerasan.

Untuk konseling online, Anda bisa kirim email ke pulihcounseling@gmail.com atau Whatsapp ke 081283481128 atau hubungi 021-78842580/ SMS 021-95002059.

Dengan ikut serta peduli pada sekeliling kita untuk mencegah dan menangani kekerasan pada mereka yang membutuhkan bantuan, kita juga mengamalkan nilai ahimsa atau anti kekerasan dalam yoga. Jadi, yoga kita tak cuma di level asana. (/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *