Inisiator Yoga Gembira Terlibat dalam Pertunjukan Tari Gandwyuha

HUJAN gerimis. Langit hitam. Cahaya yang menyorot stupa induk membiaskan sebuah suasana yang susah diucapkan malam itu. Magis. Dari batu putih berserakan dan bertumpukan yang ditata oleh perupa Hanafi di panggung terbuka Aksobya, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, penari Nungki Kusumastuti, Maria Darmaningsih, dan Ni Nyoman Sudewi menarik kain putih panjang.

MeRAGA Jam, karya yang dipertunjukkan ketiga penari itu bersama seorang pelatih yoga, Yudhi Widyantoro, 24 November lalu, merupakan bagian dari Borobudur Writers & Cultural Festival 2017 bertema “Gandawyuha”. Set yang dibuat Hanafi impresif. Susunan batu yang bolong di bagian tengahnya sekilas mirip reruntuhan candi atau kota. Obor dipasang di pinggir panggung.

Dalam sebuah penelitian astronomi yang pernah dilakukan, Borobudur disebut sebagai kalender waktu raksasa. Bayang-bayang stupa induk Borobudur sejak pagi sampai sore bisa digunakan untuk mengidentifikasi waktu dan musim. Hanafi memandang Borobudur sebagai sebuah jam besar. Kain-kain yang ditarik mungkin lambang dari jarum-jarum.

“Perjalanan Sudhana pada dasarnya adalah perjalanan yoga dalam lorong waktu,” kata Yudhi Widyantoro, inisiator Komunitas Yoga Gembira. Borobudur Writers kali ini mengambil tema “Gandawyuha”. Gandawyuha adalah relief utama Borobudur yang berada di lorong 2, 3, dan 4 candi itu. Lebih dari 406 relief Gandawyuha dipatrikan. Inti kisah relief adalah perjalanan seorang pemuda bernama Sudhana berkeliling India untuk mencari the ultimate truth.

Di bawah arahan bodhisattva Manjusri, Sudhana bertemu dengan 53 guru. Dari guru satu ke guru lain, ia memperoleh fragmen-fragmen pengetahuan. Sampai akhirnya Sudhana bertemu dengan bodhisattva Samantabadra dan ia mencapai Kebuddhaan. Sepanjang pertunjukan, Yudhi melakukan gerakan yoga. Gerakan-gerakan itu menjadi pusat (pancer) yang dikelilingi penari.

Mulanya Yudhi bertelanjang dada, berdiri di dekat penari. Dia menjalani prosesi pradaksina, memutari sekitar panggung. Puluhan penari Sanggar Seni Dua Atap, Magelang, duduk melingkar di panggung bagian belakang. Musik lantunan suara Nyak Ina Raseuki yang mirip gumaman sembahyang para bante terdengar seperti suara detak jam ditata oleh komponis Tony Prabowo. “Konsep pertunjukan adalah persembahan yang menyuarakan makna kepergian dan kepulangan untuk mencapai keindahan (Tuhan),” ujar Nungki Kusumastuti.

Set Hanafi tidak hanya berguna untuk gerakan Nungki dan kawan-kawan. Tiga kelompok lain malam itu, dengan improvisasi masing-masing, merespons batu yang ditata berserakan dan sporadis tersebut. Jefriandi Usman, Maria Bernadeth, dan David dalam karya berjudul Alif mampu memanfaatkan semua batu dengan tangkas. Mereka meniti di atas batu-batu. Menggedak-gedak lantai papan-papan kayu yang dihampar di antara batu. Mereka mampu membaurkan entakan kaki dengan lantunan asma Allah dan ratapan. Pertunjukan Alif menggemakan suasana zikir di kaki Borobudur.

Adapun pertunjukan Komunitas Badan Gila (Kobagi) dari Bali menampilkan musik yang memadukan tari kecak dan genjek. Kemampuan mereka mengeksplorasi bunyi-bunyian dari memukul-mukul pipi sampai tubuh dan kaki mengesankan. Seperti halnya Jefriandi Usman dkk, mereka mampu memanfaatkan seluruh ruang batu yang dibuat Hanafi. Karya mereka tak terduga. Tubuh-tubuh mereka menjadi tubuh bunyi yang arkais. Liar sekaligus tertib.

Karya garapan Iwan Dadijono berjudul Ovos, yang melukiskan penderitaan Yesus dalam perjalanannya menuju Golgota, memang tak begitu mengeksplorasi batu-batu Hanafi. Iwan memilih menampilkan karyanya di depan batu-batu Hanafi. Tapi, saat ia melakukan tarian tunggal dengan iringan rekaman lantunan suara ibu pendoa di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, suasana batu-batu itu sangat mendukung. Iwan menjatuhkan tubuhnya di trap rerumputan. Tubuhnya merosot, menggelepar-gelepar. Ia tengah menyimbolkan detik-detik penyaliban Kristus.

Hanafi menggunakan batu paras, jenis batuan dari proses pengendapan butiran pasir dan zat-zat kimia yang dihanyutkan air. Ia mendatangkan batu-batu itu dari Magelang. Hanafi tak mau menggunakan tripleks atau Styrofoam. Ia tak ingin menipu penonton. Di belakang batu, Hanafi menancapkan lebih dari 200 batang bambu lengkap dengan daunnya. Pohon bambu yang menggerombol itu ditata melingkar pada rangka besi. Dia menata bambu-bambu itu secara miring seperti hendak roboh. “Ini gambaran hidup manusia yang tidak selalu lurus,” katanya. “Saya sebetulnya ingin dari berjalan di atas batu, lalu menuju dan naik ke pohon bambu. Tapi takut patah karena bambunya sudah sangat miring,” Jefriandi Usman menambahkan.

Empat pertunjukan itu berbeda nuansa. Kolaborasi yoga-tari Nungki Kusumastuti dkk menekankan gerakan Jawa yang mengalir. Akan halnya Alif karya Jefriandi Usman mendaraskan suara zikir yang pilu sekaligus dinamis. Sedangkan kecak dari Kobagi mengekspresikan tubuh para petani Bali yang bebas dan Ovos karya Iwan Dadijono sangat Katolik. Keempatnya berlainan, tapi malam itu bisa dipersatukan oleh suasana stupa Borobudur yang magis. Sorot cahaya yang diarahkan ke stupa induk membentuk garis-garis yang menyirami langit. Juga demikian tatkala dua penyair, Yudhistira A.N.M. Massardi dan Acep Zamzam Noor, membacakan sajak-sajak mereka. Saat Acep membacakan puisi-puisi terbarunya, secara tak sengaja bias lampu membentuk tanda seperti palang atau salib di langit.

Dan hujan pun tak menyurutkan penonton. Berkerudung mantel hujan dan payung, mereka tak beranjak dari kursi. Tetesan air hujan, menurut Nungki Kusumastuti, menjadi “berkah”. Dia bersama Maria Darmaningsih dan Ni Nyoman Sudewi saat membawakan tubuh malah lebih lepas, tanpa beban. “Gerakan kami terasa enak, fleksibel. Kami menghayati betul,” ujar Nungki. Kesetaraan umur antara dia dan Maria serta Sudewi memudahkan kesetaraan berpikir menghadapi benda-benda dan suasana alam yang tak terduga seperti yang terjadi malam itu. “Hujan membantu memberikan aura. Bagi kami, ini penting untuk membangun spiritualitas dari dalam diri,” ucap Nungki.

Pentas itu, bagi Nungki, menggambarkan usaha keras perjalanan seorang manusia menemukan kembali awal kepergian. Dalam proses pencarian itu, orang bisa menemui rintangan ataupun kelancaran. Tatkala ketiganya menarik kain putih bersama-sama dan berusaha susah payah membawa kain melewati tumpukan batu, itu menyimbolkan perjalanan tersebut naik-turun, penuh kegagalan, tapi tetap harus diupayakan.

Gerakan tari itu juga, bagi Nungki, menggambarkan jarum jam yang mengatur alur kehidupan. Pagi, siang, dan malam, saling bergantian. Hampir tiga bulan kolaborasi MeRAGA Jam disiapkan. Dalam proses penggarapan, kata Nungki, tak ada hambatan. Perupa Hanafi, misalnya, menurut dia, selalu mengingatkan mereka agar tak lari dari konsep yang telah dirumuskan. Selain itu, penari diberi kebebasan untuk menyesuaikan komposisi Tony Prabowo dengan konsep mereka. (dikutip dari Koran Tempo/ tulisan oleh Shinta Maharani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *