Komunitas Yoga Gembira Menjadi Tuan Rumah Perayaan Hari Yoga Internasional 2019

 

Dihadiri oleh kurang lebih 290 orang lebih, perayaan Hari Yoga Sedunia tahun ini di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat berlangsung dengan meriah. Perayaan ini adalah bagian dari rangkaian besar perayaan hari yoga sedunia di berbagai lokasi tak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia, termasuk di negara asal yoga, India.

Acara dibuka dengan sebuah paparan singkat dari inisiator Komunitas Yoga Gembira, Yudhi Widdyantoro, dan Ningrum Ambarsari mengenai PPYNI (Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia).

Dalam paparannya, Yudhi mengungkapkan bahwa sebagaimana sejarah bangsa Indonesia, sejarah yoga di Indonesia juga mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita tidak bisa terlepas dari semangat keberagaman/ pluralisme. “Dari catatan I-Ching, intelektual Tiongkok yang pernah menetap di Sriwijaya Sumatera 1300 tahun yang lalu, nilai-nilai yoga, seperti yang terkandung dalam Yogasutra Patanjali sudah dipraktikkan, walaupun bukan dalam bentuk asana-asana canggih seperti sekarang ini,” ungkapnya.Kedatangan yoga terjadi sedemikian rupa lewat persilangan budaya dari bangsa India dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, Sumatera, dan lainnya. “Dalam perkembangan yang lebih modern, yoga juga datang, atau didatangkan dari dunia Barat, dari Amerika, Eropa. Tidak sedikit guru dari Barat dengan berbagai aliran, style, atau tradisi mengajar di Indonesia. Banyak juga yogi/yogini Indonesia menimba ilmu di sana, selain di negeri India, asal yoga,” terang Yudhi lagi.

Ia juga menyoroti dinamika perkembangan yoga di tanah air selama ini. ‘Puspa ragam’ yoga di ‘taman sari’ peryogaan Indonesia terkadang, ucap Yudhi, juga menciptakan friksi, perselisihan dan ketegangan di antara pengikut fanatiknya. Umumnya friksi terjadi karena adanya klaim keunggulan akan style, gurunya-gurunya-guru, sekali lagi, dari murid-murid atau praktisinya. “Jarang yang menyadari kebhinekaan tradisi atau style seperti juga organ-organ di dalam tubuh kita yang beragam yang dibungkus oleh tubuh, dan kulit ini,” tuturnya.

Sepanjang pengamatannya, dari sejarah panjang perjalanan yoga di Indonesia ini, ada upaya untuk mewadahi sebagai forum komunikasi untuk bersilaturahmi. “Sejauh wadah itu tidak eksklusif, dalam arti hanya untuk guru atau pakar, dan berubah menjadi mejelis penentu “hidup-mati”-nya praktisi untuk berlatih yoga, baik adanya. Dengan mengingat juga bahwa yoga bukan hanya latihan asana karena, seperti kata Patanjali, “yoga citta vriti nirodhah”. Ini artinya yoga adalah suatu metode untuk menyenangkan, menghentikan pikiran yang resah, gelisah, ‘bete’, galau untuk kemudian disalurkan pada energi yang konstruktif. Selain latihan asana yang sebentar lagi Anda praktikkan, usahakan untuk menemukan keheningan dalam batin kita, meskipun dalam keriuhan,” pesan Yudhi bagi hadirin di acara perayaan hari itu. Di tengah komunitas juga hadir tamu undangan dan kehormatan dari PPYNI Hayono Isman, beserta sejumlah penggagas komunitas yoga se-Jakarta dan sekitarnya, dan sejumlah yogi dari Jakarta dan sekitarnya.Kemudian acara berlanjut dengan sesi yoga selama sekitar 60 menit bersama dengan pengajar yoga dan juga aktor Anjasmara Prasetya yang khusus menyempatkan diri untuk berbagi di Taman Suropati di hari Minggu pagi nan cerah (30/ 6/ 2019). Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia dibentuk sebagai wadah bagi para pelaku yoga, baik mereka yang sudah mengajar atau mereka yang menjadi pembelajar, untuk bersatu dan memberikan kontribusi yang positif bagi negara dan bangsa Indonesia.

Di saat yang sama di Yogyakarta juga berlangsung acara serupa yang diadakan penggagas PPYNI, Slamet Riyanto. (*/)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *