Martin Alexander: Tidak Ada yang Mutlak

Banyak orang sudah melakukan yoga sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle) mereka. Yoga juga sudah menjadi pola hidup sehat sebagian orang. Mereka beryoga sekedar untuk mencari keringat.

Salah satunya ialah Martin Alexander, yang mengenal yoga saat ia bergabung sebagai anggota (member) di sebuah pusat kebugaran di Mangga Dua.

Dari keikutsertaannya di tempat tersebut, ia mulai merasakan manfaat yoga. Tubuhnya lebih rileks, tidur lebih berkualitas dan juga bobot tubuh yang awalnya sempat mencapai 90 kg bisa mulai turun dan lebih bugar.

Setelah merasakan dampak positif yoga dalam kehidupannya, ia ingin mengenal yoga lebih dalam lagi. “Akhirnya saya mengikuti Yoga Teacher Training RYT 200 Jam,” terang pria yang memiliki hobi tarik suara ini.

Martin yang menyukai yin yoga ini mengakui tujuannya berlatih lebih dari mencari keringat. “Tujuan saya, menjadikan tubuh lebih sehat dengan melatih fokus pada pikiran dan pernafasan,” ucap praktisi yoga yang berlatih hampir 5 kali seminggu ini. Tak heran ia memegang teguh prinsip “Nothing Absolute”, yang artinya tidak ada prinsip dalam yoga yang bisa berlaku mutlak benar untuk semua orang atau semua bentuk tubuh manusia secara sama rata. Pemahaman ini memang ada dalam ajaran Yin Yoga.

Untuk bisa mencapai tujuan tadi, ia belajar dengan sejumlah guru seperti Yudhi Widdyantoro dan Ika Pramastri. Keduanya merupakan sosok yang memberikannya inspirasi, memberikan contoh positif lewat pemikiran dan juga pola pengajarannya yang lebih bisa diterima oleh banyak orang.

Martin memfokuskan diri pada alignment dalam setiap latihan asananya. Begitu juga saat ia harus melakukan postur-postur backbending yang menurutnya relatif menyulitkan baginya karena pernah mengalami kecelakaan di area bahu.

Karena kondisi itulah, ia juga senantiasa menjajal kesadaran atau awareness yang lebih baik lagi pada raganya. “Dan tidak memaksa apabila melakukan sesuatu (asana -pen) hanya agar tampak indah dilihat,” tegas Martin.

Bila di awal perjalan sebagai pengajar, sebagian besar instruktur yoga memilih mengajar orang-orang yang lebih awam daripada diri mereka, Martin justru memiliki pengalaman sebaliknya. “Awalnya agak ragu karena kebanyakan yang mengikuti kelas saya adalah yang lebih senior dan juga sudah sering mengikuti yoga, tapi setelah mendapatkan tanggapan yang cukup baik saya menjadi lebih bersemangat lagi untuk membagi pengetahuan saya.”

Dengan terus mengasah diri, Martin telah menemukan gaya mengajarnya sendiri di kelas. Ia menjadi lebih santai dan tidak terlalu serius sehingga dapat memecahkan suasana yang terkadang terkesan kaku. Namun, di saat yang sama ia tetap mementingkan konsentrasi dan juga pola gerak nafas, pungkas insturktur yang lebih banyak mengajar kelas privat di Jakarta Pusat dan Utara ini pada YogaGembira.com. (*/Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *