Menjadi Bahagia dengan Yoga

Berbeda dengan sebagian orang yang mulai beryoga dengan misi untuk menurunkan berat badan, Akhlis memandang yoga sebagai sebuah gerbang untuk menuju kenyamanan menjadi diri sendiri. Tumbuh sebagai anak yang kurang menikmati atletik, renang dan olahraga populer lain yang menggunakan bola, ia lebih menyukai membaca buku. Dalam pelajaran olahraga, yang ia paling nantikan hanyalah senam lantai yang sebagian gerakannya memiliki kemiripan dengan yoga yang ia tekuni sekarang. “Mencium lutut, melakukan sikap lilin atau roll ke depan dan belakang. Saya suka itu semua,” katanya yang di kemudian hari baru mengetahui semua itu disebut paschimottanasana, sarvangasana dan chakrasana dalam yoga.

Bergabung dengan Komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati pada akhir Desember 2010, saat itulah Akhlis baru mengenal yoga untuk pertama kali. Baru beberapa kali berlatih rutin, ia merasakan efek positifnya yang membuat imunitas tubuhnya lebih baik dan pikiran lebih tenang dan fokus. Sebelumnya, ia memang sudah menaruh minat pada yoga tetapi belum tahu harus belajar ke mana atau pada siapa. Beruntung begitu ia bekerja sebagai penulis di ibukota pada tahun yang sama, ia menemukan inisiator Yoga Gembira, Yudhi Widdyantoro, sebagai guru yoga pertamanya. Sejak itulah, ia merasakan kenikmatan mengolah raga dan rasa dalam setiap latihan yoga. Saban Minggu pagi, ia pun rutin menghadiri latihan yang diadakan hanya seminggu sekali. Sementara itu, di hari-hari lain ia tidak memiliki waktu khusus untuk berlatih secara intensif. “Hanya membaca buku ‘Yoga Anatomy’ tulisan Leslie Kaminoff dan meniru beberapa gerakan di dalamnya. Namun, untuk pranayama masih harus belajar secara langsung,” tuturnya yang berlatih sesempatnya di sela kesibukan.

Karena datang ke dunia yoga agar menemukan kenyamanan itulah, ia tidak memiliki ekspektasi yang muluk-muluk dalam berlatih. “Asal sudah sehat dan produktif, sudah cukup,” ucap Akhlis yang kini telah mengajar yoga ini. Namun, tanpa ekspektasi ia malah menemukan keasyikan mengeksplorasi asana yang menurutnya sangat beragam dan memiliki kandungan nilai filosofi yang unik. Dalam perjalanannya belajar, ia aktif menulis perihal yoga dalam blognya dan sempat berkontribusi sebagai salah satu penulis dalam buku bertema yoga dengan judul “Menemukan Makna, Merayakan Cinta” yang juga menghadirkan tulisan dari Yudhi Widdyantoro, Made Teddy Artiana, Arum Sukma Kinasih, Setyo Jojo dan Sanjaya. Sebagian keuntungan dari penjualan buku yang pertama kali dicetak tahun 2015 itu sedianya disalurkan untuk bantuan sosial (untuk membeli bisa mengunjungi tautan berikut: http://maknadancinta.blogspot.com/p/informasi-buku.html).

Dalam hal belajar yoga, ia tidak pernah terpaku pada satu guru dan gaya tertentu. “Sesuai kebutuhan, kondisi dan situasi. Saat ingin berelaksasi dan lebih meditatif, pilih Yin Yoga. Saat ingin meningkatkan ketahanan dan kekuatan, pilih Ashtanga dan Power Yoga. Kalau capek? Istirahat saja,” ungkap Akhlis yang pernah ‘dipaksa’ mengajar hanya berbekal majalah yoga sebagai panduan jauh sebelum ia menemukan panggilan untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya. Saat berlatih asana ia juga tidak berlebihan menyukai beberapa asana jenis tertentu, karena sekali lagi keseimbangan dan variasi itu diperlukan. “Memang wajar jika kita masih baru belajar yoga dan merasakan adanya dorongan untuk terobsesi dengan sejumlah asana yang kita belum atau susah sekali kuasai sampai tiap hari ingin rasanya berlatih khusus untuk itu saja. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, obsesi semacam itu akan luntur dengan sendirinya dan kita akan menjadi bersikap makin realistis dan sabar menerima kondisi dan kemampuan diri.”

Pun ia tidak membatasi diri untuk menekuni yoga saja. Baru-baru ini ia tertarik menekuni senam (gymnastics) yang menurutnya bisa melengkapi latihan yoganya. “Tubuh, pikiran dan jiwa membutuhkan variasi. Melakukan sesuatu yang sama persis secara terus-menerus dalam waktu yang lama tentunya akan membosankan dan berdampak buruk,” tukasnya.

Yoga bagi Akhlis juga mirip sebagai sebuah pohon yang terus tumbuh hingga akhir zaman. Ada yang lebih menyukai buahnya untuk dimakan, kayunya untuk dijadikan material bangunan, rantingnya untuk dipakai sebagai kayu bakar. Tidak ada yang salah dalam memetik manfaat yoga, katanya. “Yang salah ialah saat kita merasa pendekatan kita terhadap yoga itu yang paling benar karena latihan yoga itu bersifat pribadi,” ia berpendapat.

Meleburkan yoga dalam keseharian juga ia bisa rasakan perlahan-lahan. Menjaga diri agar terus peka dengan perubahan dalam tubuh, pikiran dan batin juga menurutnya suatu bagian pengejawantahan nilai-nilai yoga, tukas instruktur yoga yang lebih sering mengajar yoga di Jakarta Selatan dan Pusat ini dan masih terus menyempatkan diri untuk menuliskan profil-profil pengajar di blog YogaGembira.com ini. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *