Novarida Silitonga Integrasikan Yoga dan Pola Makan Sehat

Tegas, lantang dan sedikit galak. Begitu kira-kira cara Novarida Silitonga menggambarkan dirinya sebagai pengajar yoga di kelas-kelas yang ia pimpin.

Perjalanan yoga Nova dimulai saat ia kebingungan mencari seorang pengajar. “Saat guru yoga di sanggar yang saya dirikan tahun 2010 keluar, saat itu sulit menemukan guru yoga,” kenangnya. Sejak itulah ia mendorong dirinya untuk belajar yoga lebih banyak agar bisa mengajar di sanggarnya tadi dan juga alasan kesehatan. “Saya bertekad untuk belajar yoga karena saya butuh yoga itu untuk memelihara kesehatan saya juga.”

Meskipun kemudian ia mengajar yoga, awalnya Nova tidak belajar yoga untuk semata-mata ingin menjadi pengajar. Ia belajar yoga lebih karena kesadaran untuk hidup lebih sehat setelah dirundung penyakit. Benar saja, setelah beberapa lama mempraktikkan yoga secara rutin, kondisi kesehatan wanita ini berangsur-angsur membaik dan ia pun bisa lebih produktif dalam segala aktivitasnya.

Dari pengalaman pahit tersebut, Nova sekarang menyadari pentingnya menjaga kesehatan. “Latihan yoga yang saya lakukan saya integrasikan juga dengan pola makan yang sehat,” tandas perempuan penyuka aktivitas membaca dan memasak ini.

Meyakini bahwa yoga merupakan kebutuhan harian layaknya makan dan minum, Nova menyukai Yoga Vinyasa yang ‘full power’. Karena itulah, ia juga mengikuti pelatihan mengajar yoga “Tarian Jiwa” yang diselenggarakan Martin Elianto dan Tasya Dante di Martasya Studio, Bogor. Sebaliknya, Nova mengaku dirinya belum mendapatkan ‘kenikmatan’ dari kelas yoga yang lebih berfokus pada sisi meditasi.

Sebagai lulusan sekolah yoga “Yoga Mix” angkatan ketiga, Nova menyebutkan ‘Master’ Slamet saat ditanya mengenai sosok guru yang menjadi sumber inspirasinya selama ini dalam mengajar. Slamet ialah guru yoga pertama Nova yang akan selalu diingat sebagai panutannya.

Tentang karakteristik guru yoga yang ideal, menurut Nova yang merasa lebih tenang dan bisa berpikir positif setelah menekuni yoga ini, seorang pengajar mesti tahu caranya memberikan rasa nyaman pada murid-murid yang diajarnya. “Setelah murid merasa nyaman dengan kita, mereka akan kembali lagi.”

Walaupun sudah terhitung berpengalaman dalam mengajar, Nova tidak malu untuk mengakui bahwa dirinya saat mengajar pertama kali dahulu juga merasa lidahnya kelu. “Rasanya gugup saat harus berbicara dan menjelaskan gerakan-gerakan yang saya ajarkan di depan murid-murid,” imbuh pengajar yang suka yoga karena kreativitas berasana yang seakan tiada habisnya itu.

Nova yang kini sibuk mengajar di sanggar pribadinya dan kantor-kantor tersebut mengetahui bahwa masih ada sebagian masyarakat kita yang belum sepenuhnya paham apa itu yoga tetapi sudah memiliki asumsi tersendiri dari persepsi atau pengalaman dari orang lain dan urung beryoga hanya karena sudah memiliki prasangka tersebut dalam benak mereka. Pada mereka yang seperti ini, Nova tidak membenci atau menjauhi justru ia ingin menjelaskan dengan lebih akurat makna yoga sebenarnya. “Saya akan jelaskan dan mengikutkan orang itu dalam kelas yoga saya.” (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *