Perjalanan Jasudhiar Tertular ‘Virus’ Yoga

Banyak sebab kenapa seseorang bisa sampai mengenal yoga. Ada yang karena tren; ada yang karena ingin menurunkan berat badan; ada yang karena cedera; ada yang karena depresi. Pengajar yoga kita kali ini memiliki perjalanan yoga yang unik. Jasudhiar mengenal yoga pertama kalinya pada tahun 1975 saat dirinya menderita penyakit kuning atau hepatitis di pulau dewata Bali.

“Setelah saya mulai sembuh, saya kemudian diterapi oleh seseorang dari India dengan yoga tapi saat saya belum tahu yang diajarkannya itu yoga,” ia mengenang. Dhiar, demikian panggilannya, kemudian berlatih yoga sejak itu meski belum bisa dikatakan serius sebagaimana sekarang. Berkat yoga ia pun sepenuhnya pulih dari penyakit itu. “Kemudian ketika diajarkan salah satu teknik Pranayama, muncullah daya kreativitas, mudah belajar.,” tuturnya. Napas memang aspek yoga yang menurutnya “vital karena hampir sekitar 90 persen masalah kesehatan mampu diatasi dengan cara bernapas yang baik dan benar”, ujarnya.

Kemudian Dhiar pindah dari Bali karena harus kuliah lalu bekerja. Ia disarankan ke India untuk belajar ke ashram dan beberapa guru yoga di sana. “Saya ambil kesempatan itu ketika ada liburan dan mendapat cuti kantor sepanjang tahun 1983 sampai 2004,” ujarnya pada YogaGembira.com via surel.

Sejak itu ia sudah banyak menimba ilmu dari sejumlah guru yoga. “Guru saya banyak, mulai yang tua sampai yang umurnya jauh lebih muda dari saya. Semua guru saya ingat dan semuanya inspiratif, karena masing masing mengajarkan hal yang berbeda -beda. Mulai dari cara menyampaikan materi yoga sampai hal-hal kecil.“

Pengalaman mengajar pertama Dhiar tergolong unik. “Ketika itu yoga belum dikenal jadi masih bersifat tertutup, sehingga mengajarpun masih dalam skala privat dan ini tidak berdampak sama sekali ke pengalaman saya. Tetapi ketika mulai dikenal saya mendapat sebuah pengalaman yang sangat mendebarkan yaitu mengajarkan yoga termasuk meditasi kepada salah satu CEO yang berkebangsaan India. Bisa dibayangkan seorang warga India belajar (yoga-pen) dengan orang Indonesia (apakah tidak terbalik?). Dan pengalaman yang seru juga ketika mengajarkan yoga secara privat kepada seorang yang berasal dari Tiongkok. Dia tidak bisa berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Jadi bahasa isyaratlah yang dipakai. Sampai akhirnya didatangkan penerjemah, sampai kini si penerjemah akhirnya ikut beryoga pula,” terangnya detail.

Lain dari yang lain, Dhiar tidak memiliki kriteria khusus mengenai seorang guru yoga yang ideal. “Bagi saya pribadi, guru ideal itu tidak ada. Misalnya guru “A” ideal bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian yang lain tidak ideal meskipun metode pengajarannya sama. Oleh karena itu, saya cenderung memilih guru yang baik dan guru yang menginspirasi,” terang pria berkacamata ini.

Menurutnya, tujuan utama yoga adalah praktik pengembangan spiritual dalam rangka melatih tubuh dan pikiran untuk mampu mengamati diri dan menjadi sadar akan sifat mereka. Bagi masing masing individu tentu mempunyai pandangan yang berbeda beda, tetapi bagi Dhiar sendiri tujuan paling utama dalam beryoga untuk menumbuhkan kearifan, kesadaran, pengaturan diri dan kesadaran yang lebih baik dalam diri sendiri.

Dhiar tidak memiliki jenis yoga yang paling disuka atau yang tidak suka. Alasannya karena ia justru dianjurkan untuk belajar berbagai macam jenis yoga agar nantinya bila ada pertanyaan bisa dijelaskan dari berbagai macam sudut pandang. Itulah mengapa pengajar yoga yang saban hari latihan yoga ini mempunyai banyak guru.

Rutinitas sehari-hari Dhiar dimulai dari latihan yoga setelah subuh. “Diawali dengan meditasi lalu disambung dengan beberapa sequence yoga. Begitu juga ketika malam tiba sebelum tidur,” ucap pria yang lebih menyukai detail saat mengajar ini. Dengan ketatnya jadwal di sekitar Jakarta, Dhiar sudah mengajar sejak pukul 6 pagi hingga 10. Di sore hari ia mengajar kembali dari pukul 5 sore sampai 9 malam.

Saya ada 3 kelas di daerah pecenongan dst. 7 kelas di daerah Puri Kembangan, 1 kelas di Kemang Timur, 1 kelas di Karawaci dan 1 kelas di Bintaro. Mulai jam 6 pagi sdh ada kelas sampai sekitr jam 10 an. Lalu berlanjut ke sore hari mulai jam 5 sore sampai jam 9 malam setiap hari, kecuali minggu.

Dhiar paham bahwa kecenderungan untuk menyukai atau kurang menyukai satu jenis asana akan memunculkan kemelakatan atau ketidakseimbangan dalam latihan yoganya. Tak heran ia menampik dirinya memiliki asana favorit atau kurang favorit. “Sebagai pengajar yoga, menurut saya pribadi sebaiknya tidak memiliki pandangan seperti itu,” tegas pria penyuka kegiatan membaca, berenang dan melancong.

Ditanya perihal bagaimana caranya mengintegrasikan nilai-nilai yoga dalam keseharian, Dhiar menjawab panjang lebar:”Dalam yoga ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil untuk diintegrasikan dalam kehidupan misalnya Raja Yoga, Bhakti Yoga, Karma Yoga, Jnana Yoga dan yang paling penting adalah pelajaran dari Eight Limb of Yoga. Agar bisa terintegrasi memang tidak mudah butuh waktu dan latihan. Yang biasa saya lakukan adalah ketika malam hari saya melakukan apa yang disebut “Pitstop Kehidupan”. Pada saat itu saya melakukan sortir dari semua informasi baik negatif dan positif yang masuk ke dalam diri yang tidak bisa kita bendung. Dengan begitu banyak hal positif yang tertinggal dalam diri. Nah, ini selalu diulang sehingga pelajaran pelajaran yoga bisa dengan mudah diintegrasikan. Salah satu contoh yang paling dirasa adalah ketika saya di tahun 2002 didiagnosis menderita usus buntu. Dengan pola seperti di atas, usus buntu pun urung dioperasi hingga kini dinyatakan sembuh.”

Bila Anda penyuka filosofi yoga, kelas Dhiar mungkin yang Anda cari. “Ada banyak konsep filosofi yoga yang diajarkan dalam rangka membantu mengubah seluruh kualitas hidup, termasuk ketika berlatih postur yoga atau asana. Ada hal yang menarik dalam filosofi di luar asana yaitu ketika kita mempelajari materi tentang ‘bahasa yang tersirat dan tersembunyi di balik yoga’. Contohnya ketika kita sedang berdiri sebelum melakukan yoga, kita bisa mengajukan pertanyaan kepada diri seperti misalnya ‘Where am I?’ atau ‘Where do I want to be ?’ atau ‘Where do I want to go?’ atau ‘What do I want to do about myself?’, dan sebagainya. Filosofi model seperti ini butuh dilatih agar kita bisa menerima apa yang terbaik bagi kita,” tukas Dhiar mengakhiri wawancara. (*/Akhlis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *