Pranayama: Lebih Dari Sekadar Bernapas (Dewi Loho)

Screen Shot 2016-04-17 at 07.34.43

 

Semua orang bisa bernapas, tetapi tidak semua orang bisa mengendalikan pikiran mereka dengan pernapasan. Padahal pernapasan berkaitan erat dengan tubuh, pikiran dan jiwa kita. Karena dalam diri manusia, semuanya saling terkait. Tidak ada yang berdiri sendiri.  Ibarat roda, semuanya harus bersatu untuk mengarah ke arah yang sama. Itulah yang diinginkan dari praktik pranayama secara umum. Demikian kata Dewi Loho saat membuka kelas pranayama dasarnya pagi ini di hari kedua, arena 1, YoGFest 2016.
Mengendalikan pikiran penting karena membentuk pandangan kita pada dunia di sekeliling kita. Friksi dan distorsi bisa terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan pikiran. Alhasil, semua itu mengeruhkan pandangan kita terhadap dunia. Menyeimbangkan dan menenangkan pikiran agar kita bisa melihat dunia dengan lebih jernih, sehingga kita bisa menjalani kehidupan kita dengan lebih baik.
Prana ialah energi hidup dan yama ialah pengendalian, jadi pranayama bisa didefinisikan secara kasar sebagai sebuah pengendalian terhadap cara bernapas kita.
Dalam kelas berdurasi satu jam ini, Dewi membagikan sejumlah teknik pernapasan (pranayama) dasar yang menarik untuk dipelajari.
Namun, semuanya harus diawali dengan pondasi yang benar dahulu, yaitu dengan duduk di tulang duduk, dan menegakkan tulang belakang serta menjaga kedua bahu tetap rileks dan turun.
Teknik pertama yang ia ajarkan ialah uddhyana bandha kriya, yang mengaktifkan otot perut atas dan berguna untuk melepaskan ketegangan, memberikan pijatan lembut bagi organ-organ dalam agar tetap muda dan bekerja baik. Cara melakukannya adalah dengan mengeluarkan napas kemudian menarik otot perut ke atas dan melepaskannya. “Di sini Anda tidak perlu terlalu memaksa. Lakukan sesuai kemampuan Anda,” tegas Dewi.
Simha mudhra (lion pose) adalah teknik berikutnya yang diajarkan Dewi. Caranya mudah. Silangkan kaki dan duduk di atas perinium dengan kedua telapak tangan di atas lutut. Tulang belakang lurus kemudian hembuskan napas keluar dengan lidah menjulur keluar sejauh mungkin dan mata mengarah ke atas. “Jangan takut terlihat jelek,” imbau Dewi pada peserta yang masih kikuk menjulurkan lidah mereka. Pernapasan singa ini berguna untuk meregangkan otot-otot di muka, leher, jari jemari.
Brahma mudhra, yogic breathing dan ujayyi pranayama merupakan teknik-teknik pernapasan lainnya yang diajarkan Dewi dalam workshop singkat ini. Semuanya memiliki efek-efek unik dan khas terhadap tubuh, pikiran dan jiwa masing-masing pelakunya.
Dengan belajar pranayama, seorang yogi mampu kembali ke tujuan yoga dengan menemukan ketenangan, bagaikan tenangnya air kolam. Ketenangan ini sesuai dengan pernyataan terkenal Patanjali:”Chitta vritti nirodha” yang maknanya kurang lebih menenangkan pikiran yang berfluktuasi secara alami.
Sekadar kiat bagi pemula, Dewi menyarankan untuk membangun dengan komitmen personal yang konsistensinya terjaga. Ini karena efek positif pranayama akan terasa jika dipraktikkan bertahap secara teratur. Tidak masalah tentang durasi latihannya, tetapi yang lebih menentukan ialah frekuensinya. Setiap hari akan lebih baik, saran Dewi. (*Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *