Rina Almanda Suka Yoga yang ‘Fun, Compact, Sweaty’

Kesibukan Rina Almanda tidak bisa dianggap enteng. Tidak cuma mengajar yoga, ia juga bekerja mengurus 25 unit salon dan menjadi ibu serta istri yang baik bagi anak-anak dan suaminya.

Pada Yoga Gembira, pengajar yoga ini menceritakan bagaimana ia bisa berkenalan dengan yoga. “Dulu saya anggap yoga membosankan karena hanya diam di tempat dan tidak (bersifat – pen) high mobility,” kenang penyuka guru yoga yang tidak malu menjadi apa adanya itu.

Namun, dari kesan pertama yang meremehkan yoga itu, wanita yang juga bisa mengajar Pound Fit ini akhirnya pada tahun 2014 memutuskan untuk menekuni yoga lebih dalam. Alasannya karena ia saat itu sedang mengalami cedera lutut karena sering mengikuti lomba dan latihan lari secara intens. Berkat latihan rutin yoganya, Rina kini relatif bebas dari rasa tidak nyaman dari cedera yang ia alami itu.

Pengalaman pertama mengajar Rina penuh kegugupan tetapi ia juga merasa bersemangat. “Nervous, excited selalu sepaket. Tapi senang bisa melewatinya. Saya masih ingat kelas pertama menggantikan Anjasmara dalam kelasnya.”

“Tujuan paling utama saya dalam yoga ialah melatih pikiran, jiwa dan tubuh melalui pernapasan apalagi kalau bisa menikmati kucuran keringat dan bunyi suara napas,” tukas pengajar yang mengidolakan guru yoga vinyasa yoga Olivia Tuscher ini. Olah napas dalam yoga juga membuatnya lebih tenang dalam bersikap dalam kesehariannya.

Perlahan tetapi pasti, Rina mencoba mengintegrasikan yoga dalam kehidupan sehari-hari. Caranya dengan merefleksikan latihan yoga ke dalam tiap aktivitas, misalnya dengan membiarkan napas yang membawa latihan secara alami ke arah tertentu. “Sama halnya membiarkan saja kita menjalani hidup. Tujuan hidup harus ada tetapi tidak ngotot untuk menjalaninya,” ucap lulusan Yoga Maze 200 jam ini bersama Noah Maze dan Rocky Heron tersebut. Pendekatan yang mengalir seperti aliran air inilah yang ia terapkan juga dalam perjalanan yoganya.

Rina mengakui dirinya paling menggandrungi jenis kelas yoga yang bersifat vinyasa. Imbuh Rina yang paling enggan berlatih arm balance karena masih sulit menguasainya,”Karena bersifat flowing walaupun allignment juga penting untuk bisa dimasukkan ke dalam sekuen yoga.”

Meskipun selama ini sudah beryoga sampai menjadi pengajar, Rina tidak berlatih yoga asana setiap hari. Ia memilih untuk menjadi praktisi yang moderat. “Standar, tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Saya seminggu 2 sampai dengan 3 kali,” terang penyuka tipe asana inversi, karena di asana-asana itu bisa merasakan 2 kondisi yang berbeda, serta melatih empati.

Di waktu luang, Rina tidak menghabiskan waktu untuk mengajar yoga di GudangGudang Yoga Studio dan Asmaradana Sanctuary saja. Ia kadang menonton film, melancong, membaca novel, serta bersantap bersama keluarga dan teman-teman dekatnya.

Bilamana ia ditanya aspek paling menarik dari filosofi/ non-asana dalam yoga, Rina menjawab:”Yoga Sutra Patanjali terutama Yama dan Niyama.” (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *