Rusti: Penyuka Bakasana yang Ingin Sehat dengan Yoga

Yoga bagi sebagian orang dianggap sebagai olahrasa saja. Bayangan orang duduk-duduk bermeditasi dan bertapa seolah melekat dengan kata “yoga”. Walaupun itu tidak sepenuhnya salah, duduk bermeditasi hanyalah salah satu aspek yoga. Ada unsur gerakan fisik dan pernapasan yang menyehatkan pelakunya pula tanpa pandang bulu.

Itu pula yang terlintas dalam benak pengajar kita satu ini. “Kesan pertama melihat yoga menarik, sebab pertama yang saya ketahui yoga itu meditasi dan ternyata tidak hanya meditasi saja. Ada olah tubuh/raga dan olah nafas, dan itulah yang membuat saya tertarik,” ungkapnya.

Mulai tertarik dengan yoga mulai September 2012, Rusti bergabung di salah satu pusat kebugaran (fitness center) di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Setahun setelah itu (2013), ia memutuskan mengikuti sebuah pelatihan guru yoga.

Tepat dua tahun setelah memasuki kelas yoga perdananya dan merampungkan pelatihan mengajar yoganya tersebut, Rusti pun mulai mencicipi rasanya menjadi pengajar yoga. “Saya mulai mengajar September 2014 sampai sekarang,” tutur perempuan yang hanya memiliki satu tujuan dalam beryoga, yakni ingin jadi sehat.

Layaknya pengalaman perdana yang lain, pengalaman pertamanya sebagai pengajar yoga dipenuhi kegugupan karena itu pertama kali dirinya tampil di depan orang banyak. “Tetapi beruntung saya mendapatkan guru-guru yang selalu membimbing walaupun tanpa mereka sadari, memberikan masukan dan nasihat yang  mengarahkan saya sampai seperti sekarang ini. Hanya kata ‘terima kasih’ yang bisa saya ucapkan pada mereka.”

Dalam perjalanan yoganya selama lima tahun ini, Rusti banyak menimba ilmu dan pengetahuan mengenai yoga dan seluk beluknya dari sejumlah pengajar yang sudah dikenal luas di Jakarta dan sekitarnya. Ia menyebut nama I’in Margaretha Rivai, Tasya Dante, Slamet Riyanto serta I Wayan Bagus Saputra sebagai deretan guru yoga yang paling ia ingat dan ia anggap paling inspiratif karena memenuhi kriteria Rusti mengenai kualitas guru yoga yang baik, yakni dapat memberikan instruksi yang jelas kepada para peserta, rendah hati dan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai yoga.

Bagi mereka yang sering bermasalah dalam urusan tidur malam, Rusti menyarankan untuk mencoba yoga. Karena berdasarkan pengalamannya, manfaat pertama yang ia bisa rasakan dari rutinitas yoganya ialah tidur malam yang lebih berkualitas. Di samping itu, stres juga lebih terkendali.

Ditanya mengenai jenis yoga yang paling ia sukai, Rusti menjawab lugas;”Vinyasa flow, karena gerakannya hampir seperti tarian jadi terlihat indah.”

Jika tidak berlatih yoga sendiri, wanita penyuka postur bakasana ini mengaku berlatih bersama-sama ketika ada kelas spesial dan di sela waktunya mengajar bila ada kesempatan. Tentang bakasana, ia tertarik dengan filosofi di baliknya dan faktor tantangannya.

Kesibukannya sebagai pengajar yoga tidak membuatnya lupa dengan kegemarannya yang lain, dari olahraga bowling, TRX, functional training dan zumba.

Hingga saat ini, Rusti telah mengikuti sejumlah pelatihan mengajar yoga yakni Teacher Training YogaMix (120 jam), Yoga Theraphy Teacher Training (50 jam) oleh Martin Kirk, Teacher Training Markandeya Yoga (50 jam), serta Teacher Training Markandeya Yoga (100 jam).

Setelah mengikuti semua pelatihan itu, ia tidak berpuas diri begitu saja. Untuk selanjutnya, ia masih memiliki rencana untuk memperdalam pengetahuannya lagi. “Saya berencana mengikuti TT khusus Yoga Therapy (200 jam),” terangnya.

Menyoal media sosial dalam dunia yoga masa kini, Rusti memiliki pendapatnya sendiri. Menurutnya, meskipun tidak begitu intens beraktivitas di dalamnya, media sosial berpotensi sebagai wadah untuk media promosi dan informasi bagi para pengajar yoga. (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *