Shanti Mendera: Lebih Suka yang Tradisional

Di tahun 2009, pengajar yoga kita satu ini adalah salah satu dari kalangan pekerja kantoran yang mendambakan berat badan ideal. Shanti Mendera, atau yang dipanggil akrab dengan Shanti kemudian memutuskan menjajal sebuah kelas yoga di tempatnya bekerja. Ia mengaku sudah berjuang menurunkan berat badan. Sayangnya, belum ada cara yang ampuh.

“Saya sudah ke gym 3 kali sehari, tidak ada efeknya. Diet juga sudah. Gagal,” ujarnya mengenang perjuangannya di masa lampau yang pastinya juga dialami oleh banyak orang.

Begitu ia konsisten beryoga, justru ia menemukan keberhasilan. Tidak hanya berat badan, kesehatannya secara keseluruhan juga meningkat. Kelenturan tubuhnya meningkatan dan napasnya saat menjalani hobi menyelam menjadi lebih efisien.

Shanti kini mempertahankan capaiannya itu dengan rutin beryoga. “Saya latihan yoga sendiri di kos tiap pagi. Baru kalau memungkinkan, saya ikut latihan yoga di kelas pak Arif dan yoga di Taman Suropati,” ucapnya yang telah sejak lama bertandang ke Taman Suropati. Dan kali ini sebetulnya bukan kesempatan pertama ia berbagi.

Dari situlah, tujuan utamanya yang hanya sekadar mencapai berat normal bergeser ke sesuatu yang lebih besar. “Saya ingin menjadi sehat sekaligus bahagia.”

Dalam ingatannya, guru yoga yang paling membekas dalam ingatannya ialah Arif Sentosa yang sudah sejak lama memperkenalkan Jivamukti Yoga di nusantara. Guru yoga yang ideal menurutnya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan seluruh murid yang sudah hadir di kelasnya, tidak peduli dengan perbedaan umur, level penguasaan asana dan sebagainya.

“Saya paling suka dengan Hatha Yoga,” jawabnya tatkala ditanya soal jenis yoga yang ia paling sukai untuk dipraktikkan. Alasannya karena ia lebih klik dengan hal-hal yang tradisional.

Sebagai pribadi yang menyukai tantangan, pengajar yang telah mengikuti pelatihan mengajar yoga di Yoga Vidya Gurukul, India, ini menyukai asana jenis arm balance. Sementara itu, ia kurang menyukai navasana (boat pose) sebab ia “tidak kuat”.

Tak lupa ia meleburkan nilai dan prinsip yoga dalam kehidupan di luar mat dengan menjalankan yama dan niyama. Caranya dengan menjalankan  yama dan niyama. “Misalnya dengan rajin mandi (sauca), jujur (satya),” terang perempuan yang menyukai tidur, makan, dan membaca buku.

Ia menggambarkan kelasnya sebagai kelas yang “menyenangkan”. Karena dalam mengajar Shanti memberikan banyak opsi di tiap postur yang diberikan. Sehingga orang bisa mengikutinya, imbuh Shanti yang sekarang sibuk mengajar di sejumlah kelas privat di kantor-kantor dan kalangan umum di sebuah salon khusus perempuan di Jakarta.

Penasaran dengan kelas Shanti? Jangan lewatkan kelasnya akhir pekan ini. (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *