Tarita & I Wayan Bagus: Yoga Tidak Cuma Asana

 

Komunitas Yoga Gembira kali ini menghadirkan Tarita dan I Wayan Bagus. Perlu diketahui, Tarita merupakan salah satu anggota pertama komunitas ini. Sementara itu, Bagus telah pernah bertandang ke komunitas Yoga Gembira untuk berbagi yoganya pada tahun 2013. Setelah beberapa lama, keduanya berkesempatan untuk mengajar bersama di Taman Suropati Minggu pagi nanti. Berikut profil singkat mereka berdua.

TARITA

Pada pembaca yogagembira.com, Tarita berkenan untuk membagikan seluk beluk perjalanannya dalam menekuni yoga. Seperti banyak peminat yoga yang bermula dari mata, Tarita juga tertarik dengan sebuah foto yang tampak memancarkan kedamaian. “Saya mulai tertarik dengan Yoga setelah melihat gambar seseorang melakukan meditasi dalam sukhasana,” kenang ibu dengan dua anak ini.

Dari sana, ia pun memutuskan belajar Yoga pada seorang praktisi yang menjalani kehidupan sederhana dan bersahaja. “Guru ini menjauhi publikasi sehingga tidak banyak yang mengenalnya,” tuturnya tanpa menyebutkan nama gurunya yang pertama. Dari guru yang perdana itu, Tarita terus melanjutkan pembelajarannya Yoganya dengan belajar pada banyak guru. Perspektifnya mengenai guru juga makin luas dan luwes, menandakan pemahamannya yang makin mendalam mengenai Yoga. “Guru saya selanjutnya adalah semua yang saya temui sepanjang kehidupan yang saya jalani.”

Ditanya mengenai faedah yang ia rasakan dari rajin beryoga, Tarita yang muslim ini menjawab singkat:”Setelah beryoga, sholat saya menjadi terasa lebih indah dan nikmat.”

Dalam pengamatannya sendiri sebagai murid dan guru, guru yang ideal ialah sosok-sosok yang sederhana dalam berbagai aspek kehidupan mereka. “Sederhana dalam berpikir, berkata, bertindak dan berperilaku. Tidak sombong dalam kesederhanaan. Tidak merasa lebih baik dari orang lain. Karena yang ada sekarang adalah pemberian Tuhan.”

Tarita mengaku dirinya bukan penggemar berat salah satu aliran atau jenis yoga. Yang terpenting baginya latihan yoga itu – tanpa peduli jenis dan alirannya – dirancang dalam sekuen yang baik, memberikan manfaat kesehatan, keseimbangan dan kebaikan pada tubuh fisik, pikiran dan mental para pelakunya. Otomatis, yoga semacam itulah yang ia juga rasa paling nyaman untuk diajarkan pada orang lain.

Jika ada yogi yang berlatih yoga asana atau postur fisik tiap hari, Tarita justru sebaliknya. Ia mengaku senang berlatih yoga asana sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya. Dan ia juga tidak melupakan aspek filosofi yoga yang menurutnya “belajar filosofi membuat praktisi tetap wajar dan tidak berlebihan”.

Baginya, yoga tidak hanya di atas mat. Ia integrasikan apa yang ia pelajari dalam kelas dan di atas mat dengan keseharian. “Berlatih yoga membantu seseorang menjalani peran-perannya dalam kehidupan. Sebagai anak, sebagai saudara, orang tua, isteri/ suami, ipar, sahabat, teman, anggota masyarakat,” ungkap penggemar traveling dan menari ini.

Meski sibuk mengurus keluarga dan mengajar yoga (di sejumlah komunitas, perusahaan, di rumah sendiri, di studio tari (Tebet), privat (terapi)), lulusan Teacher Training Yoga Leaf (angkatan tujuh) di Bandung ini  masih menyempatkan diri untuk datang ke event-event bertema lingkungan hidup, pangan lokal, seni dan budaya yang menjadi fokus ketertarikannya yang lain.

I WAYAN BAGUS

Dihubungi via telepon dalam kesempatan terpisah, Bagus menceritakan sekelumit perjalanan yoganya sampai sekarang dengan gaya bijak, hangat dan santai, sebagaimana yang ia sering tunjukkan pada murid-muridnya saat mengajar di dalam dan luar kelas. Tumbuh sebagai anak yang terlahir dalam keluarga Bali yang menjalankan ajaran Hindu dengan taat, Bagus kecil sudah mengenal yoga dan ajaran serta nilai-nilainya di bangku sekolah dasar.

“Dari situ, saya kemudian menyukai latihan asana (postur fisik – pen),” Bagus mengingat awal mula ia makin intens belajar yoga. Ia pu terus berlatih dan belajar dari kelas ke kelas lain, dari satu guru ke guru lain.

Setiap kelas yoga berakhir, Bagus tidak serta merta merasakan sebuah kedamaian dalam jiwanya. “Selesai berasana, saya merasakan masih ada kegelisahan dalam diri.”

Dari sini, Bagus mulai mengerti bahwa ada yang belum bisa diatasi dengan hanya berlatih asana atau fisik saja. “Manusia memiliki tubuh fisik yang bisa disehatkan dengan berasana. Tapi jangan lupa bahwa kita memiliki tubuh energi (astral) yang tidak bisa disentuh dengan berlatih asana tetapi dengan berpranayama. Untuk pikiran, kita juga mesti berlatih meditasi (pratyahara dan dhyana).”

Ia terus belajar untuk menemukan bagaimana ia bisa mencari akar kegelisahan tersebut. Di satu titik dalam perjalanannya itu, ia kembali teringat dengan pelajaran agama Hindu di masa kecilnya yang jika ia cocokkan lagi dengan apa yang ia pelajari dalam yoga juga ada. Kemiripan ini memang ada, sehingga ia berkata bahwa tidak aneh jika ada orang yang merasa bahwa Hindu adalah yoga dan sebaliknya. Namun, yang belum banyak diketahui kalangan awam adalah bahwa yoga bukan agama dan ia sudah ada bahkan sebelum ajaran Hindu itu muncul.

Ia menegaskan,”Yoga melampaui batasan-batasan agama.” Dalam suatu kesempatan, Bagus bertemu dengan seorang perempuan yang telah berhaji dan mengakui bahwa salat lima waktunya menjadi terasa lebih khusyuk setelah ia berlatih kesadaran dan pernapasan dalam yoga. Itulah menurut Bagus yang bisa menjadi bukti akan universalitas prinsip-prinsip yoga.

Hal lain yang meyakinkan Bagus akan aspek universal yoga ialah saat ia menemukan bahwa meditasi sesungguhnya tidak hanya ditemukan dalam ajaran agama tertentu. “Meditasi itu ada di banyak agama, setahu saya. Di Islam misalnya ada zikir, ” ujarnya.

Pencarian Bagus kemudian sampai pada sebuah simpulan bahwa yoga adalah penyatuan, yang terjadi dalam kehidupan itu sendiri. Penyatuan semacam itu bisa kita temukan dalam awal kehidupan setiap manusia, yakni saat sel telur bertemu dengan sperma sehingga menghasilkan janin dan kemudian lahir menjadi bayi.

Maka, kata Bagus, tujuan hidup manusia semestinya ialah menyatu dengan Tuhannya. Dan jalannya bermacam-macam. Salah satunya ialah dengan menjalankan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing. Sehingga Bagus yakin bahwa agama merupakan jalan menuju penyatuan. Jalan itu bisa berbeda-beda bagi masing-masing manusia tetapi tujuannya tetap satu, Tuhan.

Saat ditanya mengenai sosok guru yang ia anggap menjadi panutan, Bagus menyebutkan satu nama. “Saya menyukai beliau karena mengajarkan pada saya mengenai keterbukaan pemikiran (openmindedness) dan kehangatan dalam mengajarkan yoga. Namun, seiring perjalanan waktu, Bagus merasakan ada kemelekatan (attachment) dan ini juga yang ia berusaha untuk kendalikan. Kemelekatan itu termasuk juga pada sosok guru yang dijadikan idola atau pujaan. “Saya kemudian sadar saya tidak boleh melekat karena jika harapan atau ekspektasi saya tidak sesuai dengan kenyataan dalam sosok guru saya, yang muncul kemudian hanyalah kekecewaan.” Dari sana, ia mulai berhenti mengidolakan sosok-sosok guru tertentu. Toh, kata Bagus, guru sudah ada dalam diri kita masing-masing. Perlahan-lahan setelah pemahaman ini meresap dalam benaknya, Bagus dapat menerima kenyataan bahwa seorang guru yang menurutnya sempurna juga memiliki kelemahan, cacat dan aibnya masing-masing, dan ia juga sama-sama manusia seperti dirinya yang terikat dualitas di dunia fana ini. Permakluman seperti itu membuatnya lebih terbuka dalam menekuni yoga. Kini, ia memandang seorang guru bukan sebagai figur malaikat tanpa cacat tetapi sebagai sebuah media belajar, yang mengantarnya menuju ke tujuan.

Saat ini, Bagus yang mengajar di Rumah Yoga Jakarta tersebut memfokuskan penyampaian pesan mengenai yoga secara utuh atau holistik pada orang-orang yang ia temui dalam kelas-kelas yoganya. “Bahwa yoga seperti yang saya katakan tadi, ialah upaya penyatuan manusia dan Tuhannya,” ucapnya. Ia yang dahulu tipe praktisi yang ‘asana addict‘ dan merasa tidak sabaran jika sesi pranayama atau meditasi terlalu lama, kini memahami yoga bukan cuma asana. “Yoga juga merupakan proses pembersihan yang holistik.”

Bagus juga lebih mafhum dengan kemajemukan jenis dan aliran Hatha Yoga saat ini. Alih-alih mencoba menemukan perbedaan, ia memilih menemukan benang merahnya. “Semuanya memiliki inti yang sama. Ada unsur asana, pranayama dan meditasi. Semua ini termasuk dalam Hatha Yoga,” tegas lulusan One Song  Yoga Teacher Training, Markandeya Teacher Training serta Yoga Mix Teacher Training ini.

Dengan semua keragaman yang ada dalam yoga kontemporer, Bagus yakin bahwa setiap manusia memiliki jalannya sendiri. “Tiap orang itu istimewa dan jalannya berbeda-beda sesuai karma masing-masing. Tidak ada yang salah.”

Ia juga memiliki opini tersendiri mengenai sebagian praktisi yoga yang lebih suka berlatih meditasi dan pranayama tetapi memandang rendah rekan-rekan mereka yang masih sering berlatih asana. Dengan bijak ia menyarankan agar kita tidak perlu bersikap menghakimi karena sekali lagi tiap orang memiliki perjalanan masing-masing. “Jangan seperti anak SMA yang mencemooh anak SD atau SMP. Ingatlah bahwa untuk bisa sampai SMA, kita juga perlu masuk SD dan SMP dulu. Hal yang sama juga dalam yoga. Yang sudah sampai di pranayama dan meditasi, sebaiknya tidak perlu merendahkan mereka yang menyukai latihan asana,” pesannya sembari menekankan kesabaran dalam berproses.

Satu lagi hal menarik yang Bagus sampaikan tetapi mungkin kontraintuitif terhadap keyakinan umum para praktisi yoga ialah bahwa ia sampai sekarang tidak berusaha untuk berpantang makanan dan minuman apapun yang mengandung unsur hewani. Dengan kata lain, ia secara sadar memilih untuk tidak menjadi penganut veganisme yang taat. “Pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya ialah ‘kenapa kita membedakan hewan dan tumbuhan?’ Mengapa kita tidak memakan hewan tapi masih makan tumbuhan? Bagi saya, hewan juga sama dengan tumbuhan. Keduanya sama-sama bernyawa,” paparnya mengenai sikapnya terhadap pola hidup berpantang daging. Karena itulah, Bagus memilih untuk berdamai dengan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk pemakan segala (omnivora) karena menurutnya “sudah hukum alam”. Lagipula saat hewan disantap oleh manusia, hewan itu dikorbankan tidak untuk tujuan yang sia-sia belaka tetapi memberikan nutrisi pada makhluk lain sebagaimana yang kita bisa temukan dalam pola rantai makanan yang ada di alam ini. Saat hewan dimakan oleh manusia, maka ia menjadi bagian dari manusia sehingga “derajatnya naik”, pungkas Bagus mengakhiri percakapan. (*/ Akhlis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *