Yoga Gembira Festival : Festival untuk Masyarakat Urban

“Kesadaran ekologis terdalam pada akhirnya merupakan kesadaran spiritual.”-Fritjof Capra

Seperti dua sisi dari satu koin. Tidak dapat dipungkiri kota merupakan penggerak utama bagi mesin pertumbuhan suatu negara. Pembangunan kota memberi peluang besar bagi peningkatan pendidikan, ketersediaan sarana kesehatan, perluasan lapangan kerja, dan aneka ikon kemakmuran bangsa. Namun sisi lain dari pembangunan itu adalah terjadinya kemacetan lalu-lintas, polusi dan macam-macam kekumuhan yang disebabkan karena penataan ruang yang tidak kreatif dan tidak berkesadaran ekologis yang termanifestasi dalam ekploitasi sumber daya alam.

Perkembangan kehidupan di kota megapolitan seperti Jakarta ini akhirnya seperti rumah berlantai dua, dengan satu lantainya berada di bawah tanah. Bangunan yang nampak di permukaan, pembangunan fisik, akan jelas terlihat: gemerlap dan terawat. Kompleks perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan dan hiburan, dan juga tempat ibadah keagamaan saling berkejaran memenuhi langit ibu kota. Itulah perumpamaan sebuah bangunan rumah yang ada di atas permukaan tanah. Sementara pembangunan di bidang sosial, mental dan spiritual, ruang-ruang yang berada di lantai bawah, nampak suram dan gelap. Tidak terurus dan kurang mendapat perhatian. Ruang publik, apalagi ruang terbuka hijau bagi warga kota yang diharapkan dapat menjadi sarana pusat aktivitas, untuk meningkatkan interaksi dan keakraban antar-warga menjadi semakin sedikit dan sesak. Taman, salah satu ruang terbuka hijau di kota bisa berfungsi sebagai area pembelajaran hidup berdemokrasi dan sarana edukasi untuk lebih mencintai lingkungan hidup menuju hidup yang lebih lestari: harmoni antara pembangunan ekonomi, kehidupan sosial dan lingkungan ekologi.

Tapi taman bukanlah sesuatu yang terberi (given). Taman-taman yang ada di kota perlu diperjuangkan agar tidak berubah peruntukannya. Salah satunya adalah dengan membuat aktivitas di ruang perkotaan ini dengan kegiatan-kegiatan yang berkuaitas, aman, nyaman, produktif, dan berwawasan ekologis.

Secara ajek, sejak lima tahun yang lalu, di setiap hari Minggu pagi, Komunitas Yoga Gembira mengajak masyarakat urban untuk berlatih yoga bersama di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Berlatih yoga di taman, bagi kami seperti membayar cicilan utang pada alam karena alam telah member inspirasi bagi filosofi kehidupan yoga itu sendiri. Saatnya sowan, ziarah, pulang ke asal dengan penuh kasih sayang, kembali dan berbhakti. Dengan sistem bayaran hanya berupa donasi sukarela, komunitas ini telah berevolusi menjadi komunitas yang solid dalam suasana kekeluargaannya. Dari donasi yang terkumpul dan digunakan untuk kegiatan sosial atau charity, komunitas ini membawa kemanfaatan yoga pada masyarakat yang lebih luas, bukan hanya untuk yang aktif berlatih di taman saat itu. Komunitas Yoga Gembira mendekonstruksi cara berpikir orang banyak bahwa yoga itu eksklusif, fanatik pada satu tradisi, mahal dan sulit.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan beryoga di taman mendapat tambahan persaudaraan lewat sesi sharing, berbagi pengetahuan oleh expertise, individu professional, atau komunitas lain setiap selesai latihan olah raga yoga di taman. Dan, kegiatan ini juga telah menginspirasi beberapa praktisi yoga di komunitas lain, di kota lain untuk melakukan juga yoga di taman.

Menjelang Hari Bumi, kini tiba saatnya kami membuat festival yoga di taman. Sebuah perayaan untuk mengingatkan kembali agar taman sebagai surga perkotaan yang berfungsi sebagai paru-paru kota, daerah resapan air, dan pusat aktivitas kreatif warga. Kami ingin Yoga Gembira Festival menjadi oase dari kegersangan dan dahaga kota, dan sejenak penenang dari kegaduahan tahun politik setalah pesta demokrasi.

Sebuah festival adalah seperti pasar. Ada pertemuan, ada transaksi. Pertemuan antara pembeli, para pencari kebutuhan dan penjual atau pemberi jasa. Tapi di balik itu, ada kegembiraan dan kegairahan. Suatu perasaan senang atas terpenuhi keinginan terdalam, rasa spiritual. Seperti pada umumnya pasar, ada span of tension, rentang ketegangan antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan yang menjadi realitas. Antara harapan peserta festival dengan menu materi yang kami tawarkan. Namun yang pasti, dengan mengusung “support local teachers”, kami mencoba memberi yang terbaik, karena untuk ukuran nasional, para pemberi materi yoga adalah guru yoga dengan dedikasi yang tinggi dan reputasi yang prima.

Di Yoga Gembira Festival 2014 ini tidak hanya kelas yoga fisik yang seperti orang awam tahu dan ikuti, tapi juga kelas-kelas dan aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan olah pikir dan olah rasa, seperti meditasi. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, ada juga tersedia kegiatan kulinari, seni, dan rekreasi. Ada makanan murah-meriah, menari bersama, dan wellbeing dan terapi, seperti pijat, refleksi. Pendek kata kami ingin mengembalikan makna kata kesehatan, seperti dalam bahasa Inggris kono – yang konon kata “health”, sehat, itu berasal dari “whole”, menyeluruh, mengartikan kesehatan yang lebih holistik. Kami meyakini nilai-nilai kebaikan yang dibangun dari komunitas akan membawa kebaikan kota secara keselurhan, better community, better city.

Dari donasi sukarela yang sebelum ini peserta berikan telah kami sumbangkan untuk biaya kesehatan dan pendidikan anak-anak yang tidak mampu, serta korban bencana alam, selain untuk upaya konservasi seperti membuat sumur resapan dan menanam pohon, seperti tekad kami “be a green yogi for today and tomorrow”. Kami merasa ini seperti gerak atau laku spiritual dalam filosofi yoga, dan seperti yang dikatakan Fritjof Capra, filsuf perennial, filsuf sufi, bahwa “kesadaran ekologis terdalam pada akhirnya merupakan kesadaran spiritual”. Tentu saja semua ini dapat terwujud hanya jika terjadi hubungan yang sinergis antara para pemangku kepentingan, pemerintah pusat dan provinsi, akademisi dengan komunitas, baik komunitas bisnis maupun komunitas sosial kemasyarakatan.

Pada festival yang pertama kami ini, semua kegiatan itu masih ada karena kami mengundang anak-anak sekolah alam dhuafa dan ibu-ibu lansia untuk ikut berlatih yoga di festival ini dengan gratis. Dan lebih khusus, kami memformulasikan sebuah program penjangkauan (outreach program) bahwa sebagain hasil dari festival ini akan kami dedikasikan untuk pelatihan bagi penghuni panti rehabilitasi korban narkoba dan juga di penjara-penjara. Sesuatu yang menjadi spirit komunitas kami yang terus terbawa: Beryoga, Bergembira, Berilmu dan Beramal.

Selamat datang dan selamat berlatih di Yoga Gembira Festival 2014.

Datanglah dengan hati tebuka, dan bukan membawa senjata. Datanglah membawa matras, tapi bukan wajah beringas!

Akhirnya, kami ingin mengungkapkan rasa suka yang membuncah dengan mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah membuat festival ini terwujud.

(Yudhi Yudhi Widdyantoro- penggagas Yoga Gembira)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *