“Yoga Peduli untuk Bumi Sehat”: Mari Kembali pada Mekanisme Alam

bumisehat_yogagembira

Siang ini jika Anda sempat melintas di Epicentrum Walk, kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Anda disambut dengan sekelompok orang yang asyik beryoga. Tak hanya itu sejumlah ibu hamil juga terlihat bersama pasangan mereka ikut beryoga bersama di udara pagi yang masih segar.

Acara “Yoga Peduli untuk Bumi Sehat” ini digagas oleh komunitas Social Yoga Club bersama dengan Majalah Nirmala, komunitas Gentle Birth dan Respect Magazine.

Didesain untuk mengakomodasi sebanyak mungkin orang, acara dibuka dengan yoga bersama sekitar pukul 7.00 dengan pembagian instruktur sesuai dengan level dan kondisi khusus. Instruktur utama Yudho Widdyantoro dibantu oleh Yanti Warso untuk level advanced, Ay Pieta untuk level beginner, dan Irma untuk ibu-ibu hamil yang ingin mencoba yoga pre-natal.

Satu pose atau asana bisa diterjemahkan sesuai kemahiran dan kondisi masing-masing sehingga risiko cedera bisa ditekan. Hal ini menunjukkan bagaimana yoga bisa dipraktikkan oleh siapa saja, usia berapapun juga, dengan kondisi apapun asal, seperti yang selalu dinyatakan oleh Yudhi, seorang manusia itu masih bisa bernafas.
Menuju pukul 9.00, sesi pun berganti dengan sharing yang menghadirkan Reza Gunawan, praktisi healing dan Dewi Lestari serta dimoderatori oleh Dyah Pratitasari yang semuanya sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan konsep gentle birth. Secara singkat, gentle birth sendiri bisa diartikan sebagai sebuah upaya / proses kelahiran yang melibatkan si ibu-ayah, janin dan lingkungannya dengan kesadaran yang lebih tinggi. Dan intinya gentle birth bukan hanya mengenai persalinan normal tetapi bagaimana bersalin dengan lebih alami sesuai kondisi sembari meminimalkan campur tangan medis. Gentle birth bukan menolak kedokteran modern tetapi menempatkannya sebagai pertolongan terakhir yang harus dilakukan jika proses alami tidak bisa berjalan lancar.

Di sini kita bisa dapatkan sebuah benang merah antara yoga dan gentle birth: kembali ke alam. Dan alam itu sendiri bukan melulu semua yang ada di luar tubuh kita, tubuh kita sendiri pun adalah bagian tak terpisahkan dari mekanisme alam yang menakjubkan, jauh lebih menakjubkan dari segala produk ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh otak manusia tercerdas sekalipun. Sering kita manusia jaman sekarang lebih mendengarkan ‘asumsi-asumsi’ yang dianggap sebagai dogma yang mutlak kebenarannya, meski harus berbenturan dengan hukum dan mekanisme alam yang sudah ada.

Kini, siapapun kita bisa memulai untuk lebih mendengarkan naluri dan nurani kita masing-masing. Jangan hanya karena merasa orang lain merasa kita kurang sesuai standar ‘umum’ maka kita buru-buru memaksakan dengan cara apapun untuk mengubah diri sesuai keinginan pihak enternal dengan melukai diri kita sendiri.

Hal ini juga dijumpai dalam yoga maupun dalam peran sebagai orang tua terutama ibu yang mengandung dan melahirkan. Yoga mengajarkan prinsip ahimsa, tidak melakukan kekerasan, dan saat kita mencoba memanipulasi proses alami dalam tubuh kita, maka itu juga serupa dengan melakukan kekerasan. Begitu juga dengan ibu hamil, dengan menyerahkan proses kelahiran dan nasib bayi kepada orang lain meskipun itu dokter kandungan paling ahli atau klinik gentle birth terlengkap sekalipun, jika tidak disertai dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang mantap tentang gentle birth serta kesadaran penuh (mindfulness) atas keinginan alami janin dan ibu, semua itu sia-sia dan sama saja melakukan kekerasan pada janin dan ibu.

Sesuai dengan tujuan penyelenggaraan acara, diserahkan pula donasi dari Komunitas Yoga Gembira di depan sekitar 60 orang audiens sebagai saksi. Semula sumbangan akan diserahkan langsung kepada Robin Lim penggagas Klinik Bumi Sehat di Bali yang sudah memfasilitasi kelahiran gratis untuk masyarakat kurang mampu. Namun karena beliau baru saja kembali dari undangan CNN Heroes 2011 maka uang donasi yang terkumpul diberikan secara simbolis oleh Yudhi Widdyantoro selaku pegiat utama Komunitas Yoga Gembira atau Social Yoga Club di Taman Suropati kepada Dyah Pratitasari.

http://www.youtube.com/watch?v=HwqWYBIZZjk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *